Ramadhan, saatnya berkaca diri

Sering kita mendengar dari kecil dari para orang tua atau sesepuh kita bahwa di bulan Ramadhan, setan itu dibelenggu dan diikat sehingga tidak bisa mengganggu manusia lagi. Perkataan para sesepuh kita sebenarnya bisa dipertanggungjawabkan, karena bersesuaian dengan sabda Nabi : Daripada Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi saw telah bersabda : “Apabila datang bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka dan dirantai/dibelenggu para syaitan.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Banyak penafsiran terhadap hadits di atas, di sini kita coba melihat dari sisi lain, terlepas apakah syaitan benar-benar dibelenggu secara “fisik” di bulan Ramadhan ataukah merupakan simbol semata. Apabila syaitan dibelenggu maka itu artinya segala tindak tanduk atau perilaku kita murni karena kita sendiri (kita tahu bahwa setan, di luar bulan Ramadhan, dengan segenap kekuatan akan selalu mengganggu dan menyesatkan akidah manusia agar jauh dari (ajaran) Allah). Itu artinya di bulan Ramadhan, Allah membuka “hijab” siapakah dan bagaimanakah diri kita sebenarnya. Apakah cenderung kepada kebaikan ataukan cenderung kepada keburukan dan maksiat. Proses tafakkur atau introspeksi diri perlu kita seriusi di bulan dimana Allah tunjukkan jati diri kita. Jika ternyata di bulan Ramadhan ini kita masih suka bermaksiat, itu artinya kemaksiatan itu berasal dari diri sendiri dan bukan karena bisikan setan, atau, perilaku kita telah “bengkok” yang bisa jadi karena kita telah dibengkokkan diri sendiri dan atau syaitan sebelumnya.

Ramadhan adalah ajang memperbaiki diri, dari segala hal yang perlu diperbaiki. Untuk bisa memperbaiki, kita harus tahu kondisi idealnya, untuk tahu kondisi ideal kita perlu informasi dan bimbingan dari yang mempunyai ilmu dan kapabilitas atas kondisi ideal itu. Ya… itu bisa diartikan kita harus berilmu. Ilmu adalah cahaya, tanpa cahaya kita buta, saat buta…. gajah bisa saja kita sebut tipis dan lebar karena saat itu hanya kupingnya yang kita pegang. Belajar dan terus belajar karena ilmu Allah teramat luasnya, cari guru sebanyak-banyaknya lebih lebih guru spiritual dan terlebih lagi guru tauhid. Karena sumber keshalehan seseorang adalah karena tauhidnya yang lurus.

Wallahu a’lam bish-showab.

One response to “Ramadhan, saatnya berkaca diri

  1. Reblogged this on jaringan anak cerdas oulet kreatif and commented:
    Ramadhan, saatnya berkaca diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s