Melahirkan MUHAMMAD Dalam Diri

siapakah yang mengaku umat Muhammad?
siapakah yang berharap berada di bawah panji Muhammad kelak di Padang Mahsyar?
siapakah yang mengaku cinta kepada Muhammad?
sudahkah kau lahirkan Muhammad dalam diri kalian?
sudahkah kau lahirkan sabarnya Muhammad, sopan santunnya Muhammad
ketaqwaan Muhammad, kasih sayangnya Muhammad
kalau belum, janganlah kau mengaku2 umat Muhammad.
Muhammad bukanlah utk sekedar kau agung2kan
Muhammad bukan sekedar untuk kau sebut2 namanya
tapi peneladanan sifat2 Muhammad yg lebih diperlukan
kemudian kau lahirkan dalam keseharian kalian
kepada anak, istri, orang tua, mertua, tetangga, orang sakit, yang tertimpa musibah
apa yang Muhammad sampaikan kau patuhi dan kau kerjakan
cinta itu bukanlah sekedar di bibir, tapi butuh langkah nyata
keimanan bukan sekedar dikata-kata, tapi berbuah dalam perbuatan
ketaqwaan bukan sekedar dirasa, tapi mewarnai tingkah pola

sudahkan kau kenal Muhammad yg akan kau lahirkan sifatnya melalui diri kalian?
kalau belum,, bersegeralah…
bersamaan itu, kenalilah siapa Tuhan Muhammad
setelah itu bersiaplah menuju kedamaian

(jumat, 15 rajab 1429H, 20.15) MK Lt.5

10 responses to “Melahirkan MUHAMMAD Dalam Diri

  1. hendaklah engkau kenal dengan muhamma lebih dari sekedar mengenal babaoakmu dan anak-anakmu

    muhammad adalah rasul dan tiap orang adalah rasul bagi dirinya sendiri

    kenapa kalau kita buka hal ini,bukan penerimaan yang muncul

  2. maaf, tidak terkoreksi :

    muhammad
    bapak

    hakimisenior@ymail.com

  3. salam kenal eyang…😀
    jadi deg2an bicara ama yg lebih sepuh, cucu manut aja eyang… hehehe(jadi inget pilem bramakumbara)

    masalah penerimaan tergantung pemahaman dan paham yg dipegang kan eyang ya…, ma kepentingan juga. mhn koreksinya😉

  4. Salam dari Kuala Lumpur, Malaysia.

    Bagus tajuk ini sahabatku.

    Benarlah Nama Rasulullah SAW ini diketahui umum. Bila diketahui umum ia dianggap biasa oleh khalayak sekarang (moden barangkali lebih sesuai?) Perkara yang sama, disebut berulang-ulang oleh kanak-kanak seawal umur 4 tahun hingga yang dewasa melepasi umur 70an. Begitulah adanya. Ia benar belaka. Tapi gambaran ini hanyalah kulit sahaja.

    Yang sahabatku nyatakan di atas adalah isinya. Eyanghakimi juga menyatakan isinya. Sebab itu bila kita buka hal ini bukan penerimaan yang muncul….

    Seperti cerita kita dengan rumah kediaman kita. Kerana kita tinggal di dalamnya, kita biasa dengannya, hari-hari kita berdampingan dengannya. Kerana terlalu biasa dengan rumah kita, maka kita menganggap kita serba tahu tentang rumah kita itu.

    Tapi mari kita panggil seorang arkitek yang pakar tentang bangunan bertamu ke rumah kita. Minta pandangannya tentang rumah kita.

    Maka dia akan memperkatakan tentang struktur binaan, bahan yang digunakan untuk membangunkan rumah kita, kemasan dalaman dan luaran, keluasan ruangan lantai, ketinggian, ada berapa tiang, pintu, tingkap, struktur atap, mata-point lampu dan bekalan elektrik, bekalan air dan sebagainya…

    Wah… begitu sekali dia boleh menceritakan tentang rumah kita, sedang kita pemiliknya tak punya keupayaan sedemikian… ini sekadar contoh….

    semoga kita dapat saling berkongsi ilmu ya sahabatku.

    Sampai jumpa lagi.

  5. waalaikum salam…..,
    insyaAllah.. dg ijinNya…ilmu semakin diajarkan akan semakin bertambah…
    saya masih muda, perlu banyak berguru juga ke eyang dan Pak Muhammad😉

  6. QALBUN/KALBUN, SURATUN/SHIRATUN
    (HATI/ANJING, PATUNG/JALAN)

    Malaikat tidak masuk ke rumah jika di rumah itu ada patung, atau anjing. Kisah ini menarik untuk dicermati. Aku merasa ada 3 kata yang harus dimaknai secara mendalam. Perlu diresapi. Pertama kata “rumah”. Rumah dalam cerita ini menurutku adalah simbol. Maksud sebenarnya ialah “manusia”. Kemudian kata “suratun”. Dalam kisah ini diterjemahkan sebagai “patung”. Kata ini dekat sekali bunyinya dengan “shiratun” yang berarti “jalan”. Lalu kata “kalbun” yang artinya “anjing”.Kata ini dekat sekali dengan kata “qalbun” yang artinya “hati”. Jadi terjemahan bebasnya kira-kira : Jika seseorang tidak punya “hati” maka ia tidak akan menemukan “jalan”(shiratun). Jalan apa? Jalan menujuNya. Jalan (shiratun) itu hanya ada pada “orang” (bayt) yang mempunyai “hati”(“qalbun”). Shuratun dalam cerita ini adalah simbol “ilah” lain yang disembah oleh manusia sehingga karenanya ia tidak menemukan jalan. Malaikat itu “melekat” pada diri tiap manusia, mana mungkin akan “copot” ketika akan masuk ke rumah yang ada patung atau ada anjing.

    Kotabaru, 22 Jan 2009

  7. ehm sy mw mendalami lg ttg agama sy tercinta yaitu islam
    mhon bimbingannya

  8. izin copy pa ustz,bolehkah? mhn m’ap dan tks

  9. Assalamu’alaykum..sy adalh hamba yg fakir ilmu.sy ingn mndalami tntang agama islam..syukron katsiiron..mhn bimbinganya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s