Hidup seKilas

Entries categorized as ‘Nasehat Sang Bapak’

Qonaah

Juni 10, 2008 · & Komentar

Secara maknawi, qonaah berarti menerima apa adanya. Merasa ikhlas dengan kondisi apapun yang dialami. Dalam bahasa jawanya : “nrimo ing pandum”

Dalam sudut pandang tertentu, qonaah sering disalah artikan sehingga menjadi pemicu sebuah kemunduran, ganjalan dalam berkembangnya seseorang ke tingkatan yang lebih tinggi/baik dalam berbagai aspek kehidupan.

Memang tak salah kalau qonaah diartikan menerima apa adanya, tapi tidak berhenti hanya sampai disitu. Sikapa qonaah menuntut siapa saja untuk selalu bermuhasabah, introspeksi, seberapakah kemampuan dirinya, sehingga ia hidup secara WAJAR dan tak melampaui batas. Selanjutnya diperlukan adanya syukur, tasyakkur dan tafakkur. Syukur sebagai perwujudan menerima apa adanya, tasyakkur tercermin dari kelapangan hati dan kesabaran, tafakkur sebagai wujud evaluasi.

contoh kecil orang yang sedang usaha berjualan. suatu saat jualannya sepi. ketika ia menghadapi itu, pertama ia ikhlas, kemudian bersyukur, “Alhamdulillah…. dengan kesempitan ini Ya Allah kau ingatkan aku, kau jadikan aku mendekat kepadaMu”. Orang ini akan semakin memacu ibadahnya, sehingga semakin dekatlah ia kepada Allah, dengan ijin Allah tentunya. dengan semakin dekat kepada Allah maka semakin lapang hatinya menjalani kesempitan ini, yang ada adalah kelurusan berfikir. Langkah selanjutnya adalah tafakkur, evaluasi. Kenapa sih orang2 seakan menjauh dari tokoku, apakah karena tokoku kotor sehingga tak menarik keinginan pembeli, apakah harga jualku terlalu mahal, apakah pelayananku yg tidak disukai pembeli… evaluasi demi evaluasi dilakukan sehingga dari situ lahirlah perbaikan-perbaikan. 2 manfaat sekaligus, ibadah semakin lancar, urusan dunia semakin lancar.

Wallahu a’lam bishshowab.

Kategori: Evaluasi Diri · Nasehat Sang Bapak · Opini
Ditandai: , , ,

Innalillah Wa inna ilaihi Roji’un

Maret 18, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

Persepsi pertama saya dan mungkin anda juga akan tertuju pada sebuah musibah, baik kematian ataupun kejadian-kejadian lain yang menyedihkan. Tidak salah memang kalau kita mengucapkan kalimah tersebut saat ada yg meninggal atau terkena musibah. Ada sisi lain yang (mungkin) terlewatkan yg sebenarnya sangat penting memaknai kalimah itu. Yuk kita telusuri…
انالله و انا اليه راجعون kalau kita terjemahkan secara harfiah: “sesungguhnya kami(aku) milik/untuk Allah dan sesungguhnya kepadaNya kami kembali”.Kata “Inna” dalam bahasa arab menunjukkan penegasan terhadap kata setelah inna. Kata “li” (seperti pernah dibahas pada tulisan sebelumnya pada penjabaran Alhamdulillah bisa berarti milik atau untuk. Ketika kita mengartikan “li” menjadi milik berarti kalimah innalillah wa inna ilaihi rojiun menyatakan bahwasanya kita milik Allah. Karena kita milik Allah, maka kita pun harus tunduk kepada pemilik kita. Hidup kita, nyawa kita, seluruh anggota tubuh kita, akal, hati, dan apapun yang kita miliki pada hakikatnya adalah milik Pemilik kita, Allah. Begitu juga dengan anak istri, semua kekayaan kita.

Setiap waktu, atau minim setiap pagi, saat mengawali hari, ikrarkan pengakuan bahwa kita adalah milik ALLAH… Jika rutin kita lakukan, maka rasa bahwa kita adalah milik Allah, akan terukir dalam hati dan benak kita; jika rasa bahwa kita adalah milik Allah kuat maka selanjutnya akan timbul bahwa semua yg ada atau melekat pada diri kita adalah titipan Allah, jika rasa bahwa semua yg berkaitan dengan diri kita adalah titipan Allah maka akan lahir rasa menjaga Amanah, kesombongan pun memudar. Jika rasa menjaga amanah mengakar di hati, akan lahir lagi kehati-hatian. Dengan kehati-hatianlah… kita akan selamat, di dunia dan akhirat…. insyaAllah.

Wallahu a’lam bishshowab.

Kategori: Evaluasi Diri · Nasehat Sang Bapak · Tauhid

Menyelami Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar

Februari 19, 2008 · & Komentar

tulisan ini menjawab permintaan dari sdr ridwan yg sudah hengkang ke NEC ;)

(Mudah-mudahan tidak terkesan menggurui… )

Bacaan tasbih, tahmid dan takbir merupakan bacaan-bacaan terpuji (kalimah thoyyibah). Untuk dapat menghayati ketiga dzikir di atas mari kita tinjau pengertian dari masing-masing kalimah di atas:

-Subhanallah : Maha Suci (Engkau) Allah
dalam kita berdialog dengan Allah, baik dalam sholat maupun dalam dzikir, puji-pujian, yang perlu kita tekankan ada plus (+) dan minus (-). plus di sisi Allah minus di sisi kita, hambanya. Kalau di dalam sholat, mengingat waktunya singkat, di saat kita baca diusahakan dalam benak kita langsung terlintas dan dirasakan ke-Maha SucianNya (dari sifat lemah, salah, butuh dll) dan pengakuan sifat lemah kita, salah dan butuh kita padaNya. 2 task sekali waktu (berbarengan)

Saat kita baca subhanallah….dg teringat tafsirnya, kita paparkan dalam hati….Maha suci engkau Ya Allah, hanya engkaulah yang suci, diriku kotor ya Allah…
Subhanallah… Maha suci engkau dari sifat lemah, sedang kekuatanku tiada apa-apanya di hadapanmu…
subhanallah… Maha suci engkau dari mendlolimi, akulah hambamu yang dlolim…

- Alhamdulilllah : segala puji untuk(mu) Allah
kata ” li” dalam bahasa arab, utk bacaan tahmid bisa berarti untuk, bisa juga berarti milik. Alhamdulillah = segala puji hanya untukMu ya Allah, atau segala puji hanya milikmu. Mari kita tengok ke dalam diri kita, ketika kita mendapat nikmat, atau kabar gembira, saat kita mengucap alhamdulillah, yg terpikir di benak kita itu kita memuji Allah karena telah memberi nikmat atau kabar gembira saja, ataukah ada penjabaran yang lain. Dalam hampir semua tulisan-tulisan sebelumnya penjabaran itu selalu saya kedepankan, karena dari penjabaran itulah RASA bisa hadir, pemahaman dan keyakinan menjadi kuat. Misal ketika kita mendapat rizki tambahan, terucap Alhamdulillah… di hati dan pikiran kita spontan berkata : Terimakasih Ya Allah, segala puji hanya untukmu Wahai Tuhan yang Maha pemurah, Maha tahu akan kebutuhanku, Maha bijaksana dalam semua ketetapan-ketetapanMu, dst…..

Ada hal lain yang bisa dipraktekkan agar “Alhamdulillah” bisa mencegahkita dari “kibr” alias sombong, terutama ketika mendengar pujian dari orang lain. Yaitu kita langsung menterjemahkan nya menjadi : Segala puji hanya milikmu Ya Allah, bukan milikku. Ketampanan/kecantikan (misal orang memuji ketampanan/kecantikan kita) ini milikmu Ya Allah, kepandaian ini milikmu Ya Allah tak pantas aku menyombongkannya dan merasa besar diri di hadapanMu ataupun dihadapan yg lain.

-Allahu Akbar : Allah Maha Besar
Kata “Akbar” merupakan bentuk “the most” dari Kabir, yang artinya besar; maka artinya paling besar, karena untuk Tuhan menjadi Maha Besar. Dalam konteks yang lain berdasar Wazan nya kata Akbar juga bisa berarti lebih besar.
Saat kita ucapkan Allahu Akbar, terucap juga dalam diri kita: “Ya Allah… engkau yg Maha besar, Aku kecil ya Allah, tidak ada seper-berapa-punnya dibandingkan Engkau…Kalau kulihat diriku dan luas tanah lapang yg ada didepanku sudah tak berbanding, apalagi diukur dengan luas seluruh daratanMu di bumi, langitMui…, sistem tata surya…, gugusan-gugusan galaksi….Ohh…Ya Huw…. Allaahu Akbar… Sungguh besar kekuasaanMu yg telah menciptakan alam jagad yang Maha besar, kutundukkan diriku, pasrah akan segala ketetapanMu. dst… “
Dzat Allah hanya Allah yg tahu, dan kita dilarang untuk memikirkannya. Kita dianjurkan untuk memikirkan ciptaan-ciptaannya untuk mengambil ‘ibroh atau pelajaran darinya, yang mendekatkan pemahaman kita akan ke-Maha-an Allah.

Wallahu a’lam bishshowab.

Kategori: Evaluasi Diri · Nasehat Sang Bapak · Tauhid
Ditandai: , , , , ,

Sudah muslimkah aku?

Februari 9, 2008 · & Komentar

ketika tetanggaku belum selamat dari cacimaki dan onggokan-onggokan kotorku, sudah muslimkah aku???
ketika masih banyak tetangga kelaparan sedang diriku tergeletak kekenyangan, sudah muslimkah aku???
ketika saudara seiman tersesat dan kubiarkan ia, sudah muslimkah aku???
ketika sekitarku tidak merasakan ketentraman akan kehadiranku, sudah muslimkah aku???

ternyata diriku masih mengaku-ngaku
sebagai muslim barulah LABEL
jejaknya pun hanya fatamorgana
Saatnya kini kuikrarkan sejatinya kemusliman itu…

akulah seorang muslim, tegap jalanku, lurus pandanganku jauh ke depan, percaya diri selendangku, karena Allahku selalu menyertaiku.
Akulah seorang muslim, rajin belajarku, giat kerjaku, cerdik berpikirku, karena seluruh raga ini amanahNya.
Akulah seorang muslim, rendah hati akhlaqku, santun tingkahku, jujur lisanku, karena junjunganku Muhammad SAW mengajariku.
Akulah seorang muslim, perkataanku meneduhkan, sesama seiman saling menyayangi, berlain iman menghargai dan menghormati, karena Rahmat Tuhanku meliputi segala sesuatu.

sebagai muslim akulah bunga pengharum itu
akulah pohon peneduh itu
akulah cahaya itu
akulah selimut itu

Kategori: Nasehat Sang Bapak · puisi
Ditandai: ,

Resep Membersihkan Hati

Januari 4, 2008 · & Komentar

Semalem habis dari ngaji bulanan di kotabumi tangerang, baru sampe rumah jam 1 malem… hujan… dingin…ngantuk…(sekali jalan 40km naek motor)

Tapi sungguh kubersyukur, selalu ada kebahagiaan sepulang dari sana, ada kelegaan dan kepuasan dalam dada. Di majelis tadi malam, rasanya tak berlebihan kalau kubilang di situlah riyadlun min riyadlil jannah (taman dari taman sorga), suatu majlis yg di dalamnya kita diajak untuk mengenal siapa Allah kita, bagaimanakah seharusnya kita bertuhan, seharusnya kita berislam, seharusnya kita meneladani Rosulullah, bagaimana menjalani hidup… juga disertai dzikir dan munajat bersama, duh syahdunya… Betapa bulu kuduk sering berdiri, betapa air mata sering menetes, betapa hati ini selalu tergetar… semua diingatkan akan Allah, akan dosa-dosa, akan orang tua, anak, istri, dan akan bangsa ini.

Lanjut Baca Klik di Sini

Kategori: Evaluasi Diri · Nasehat Sang Bapak
Ditandai: ,

Perbaharui Iman dengan “Laa ilaaha illallah”

Januari 2, 2008 · & Komentar

Rasulullah SAW bersabda:”Perbaharui iman kalian dengan laa ilaaha illallah…”Pertanyaan manakah yang benar, apakah : bagaimanakah laa ilaaha illallah mampu memperbarui iman kita? ataukah : laa ilaaha illallah yang bagaimanakah yang bisa memperbaharui iman kita. Yang pertama menjadi subjek, yang kedua, laa ilaaha illallah menjadi objek.

Kalimat tahlil (laa ilaaha illallah, red) sebagai subjek perlu pengetahuan spiritual yang sangat tinggi untuk mengungkapnya, yang paling pas bagi kita adalah bagaimana menjadikan kalimat tahlil ini sebagai media kita menuju peningkatan iman kita. Salah satu komponen dari tahlil yang perlu ditekankan di sini adalah di kata ilah, yg biasa diartikan “TUHAN”. Untuk menjabarkan kaliamat “Tiada Ilah/Tuhan selain Allah”, kita harus merujuk ke pengertian asal katanya, yaitu dalam bahasa Arab.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan definisi al ilah sebagai berikut: Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati; tunduk kepadanya, merendahkan diri di hadapannya, takut dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdo’a dan bertawakkal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya. (Dr. Yusuf Qardawi: “Tauhid dan Fenomena Kemusyrikan, (Haqiqat Al-Tauhid) terjemahan H. Abd. Rahim Haris, Pustaka Darul Hikmah, Bima, hal. 26 – 27).

Lanjut Baca Klik di Sini

Kategori: Nasehat Sang Bapak · Tauhid

Evaluasi Diri

Desember 19, 2007 · & Komentar

Untuk menghilangkan penyakit hati : iri dengki, takabbur, sombong, hubbuddunya, malas beribadah dll.

  • Setiap malam jumat diawali dan ditutup dengan Sholat sunnah
  • Tebus Istighfar 3000/6000/9000x

———-
Lanjut Baca Klik di Sini>>

Kategori: Evaluasi Diri · Nasehat Sang Bapak
Ditandai: ,

Meneladani Asmaul Husna

Desember 19, 2007 · 1 Komentar

“Walillaahil asmaa-ul husnaa fad’uuHu biHaa….”

Bagi Allah lah Nama-nama yang baik, Maka berdoalah dengannya…

AllahApa yang langsung terbersit di otak dan perasaan kita ketika mendengar istilah Asmaul Husna ini???? apakah hati ini langsung ingat dan berdzikir padaNya? ataukah hanya terlintas deretan huruf yang membentuk kata2 di setiap sekian nama yang baik yang mungkin sudah kita hafal di luar kepala??? Semua itu tergantung dari seberapa kita mengenal Asmaul Husna.

Dalam ilmu Tauhid, kita diwajibkan untuk mengakui hanya ada satu ilah yaitu ALLAH dan tiada sekutu bagiNya. BagiNya seluruh kuasa jagad alam dan segala isinya, termasuk kita manusia. Di dalamnya pula kita diwajibkan untuk mengabdi/menghambaNya dengan sebenar-benar penghambaan. Lalu, bagaimana cara kita bisa untuk menghamba dengan sebenar-benar penghambaan?? jawabannya tentu kita harus mengenal dulu siapa yang kita sembah/hambakan. Mendekatkan terhadap pengenalan kepada Allah, Allah sendiri dalam kitab suci Al-Quran melalui wasilah junjungan kita Nabi Muhammad SAW, telah mendeskripsikan diriNya melalui nama-namaNya yang indah.

Lanjut Baca Klik di Sini>>

Kategori: Nasehat Sang Bapak · Tauhid
Ditandai: , , ,

Cara Mencegah Zina

November 22, 2007 · & Komentar

Seorang murid menghadap Sang Bapak Guru selesai pengajian, ku duduk bersamanya. Hatinya berdebar saat ia mencoba beranikan diri untuk menanyakan salah satu masalahnya. Marah, putus asa, frustasi, selalu berkecamuk dalam hatinya saat ia teringat akan masalah itu.

Sang Bapak adalah seorang kyai Besar dengan banyak jamaah, semua jamaahnya memanggil “Bapak” termasuk aku dan dia, tentu saja sangat sulit untuk ngobrol empat mata dengannya. Kecamuk semakin berderu, ia menunggu saat yang tepat untuk menyela, tapi selalu saja ada orang yang mendahului untuk ngobrol dengan Bapak sekalipun hanya untuk pamit pulang. Keberaniannya sempat kendor dan hampir mengurungkan niatnya. Namun akhirnya, setelah lama menunggu, saat tamu mulai berguguran, ketika ia merasa itu adalah saat yg tepat, ia langsung menyela, menghadap dengan wajah lesu tertunduk tak bergairah. “Pak…”, ia memulai obrolan denga suara terpatah-patah. “Pak… saya mau tanya..”, Bapak tampak tidak terlalu menghiraukan, Bapak juga sedang ngobrol dengan para pembina di sebelahnya. Ia meneruskan pertanyaannya : “Pak…, saya…., nafsu syahwat saya sangat besar, saya tidak mampu mengendalikannya Pak…”.

Lanjut Baca Klik di Sini>>

Kategori: Nasehat Sang Bapak
Ditandai: