Hidup seKilas

Entries categorized as ‘Evaluasi Diri’

Syafaat dan Tanggungjawab Sosial

Agustus 21, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Mendengar kata Syafaat, mungkin kita akan langsung ingat kepada Rosulullah SAW, yang katanya kelak dapat memberikan syafaat kepada umatnya sehingga diselamatkan dari siksa neraka. Sebegitu simpelnya kah?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Depdiknas, Syafaat berarti :

sya·fa·at n perantaraan (pertolongan) untuk menyampaikan permohonan (kpd Allah): segala permintaannya telah dikabulkan oleh Allah Subhanahu wataala dng — Nabi Muhammad saw.

Dalam bahasa asalnya, bahasa Arab, Syafaat berasal dari kata Syafa’a (شفع)  berarti menggabungkan sesuatu dengan sesuatu lain yang sejenisnya agar menjadi sepasang. Dalam konteks muamalah/ibadah, dapatlah kita artikan sebagai segala perbuatan yang menyebabkan adanya hasil atau akibat, baik berupa perbuatan atau ekses lain.

Dalam QS Annisa ayat 85 disebutkan;

[4:85] Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

berangkat dari pengertian dan ayat di atas, tampaklah bahwa yg namanya syafaat adalah gabungan 2 hal yg berselaras; yang memberikan syafaat dan yang menerima syafaat. Dan kita diarahkan kepada 2 hal yaitu :

1. Anjuran memberikan syafaat yg baik

Ketika kita memberikan nasehat menuju kebaikan dan ketaatan, maka berarti kita telah memberikan syafaat yang baik. Orang akan tergerak untuk juga berbuat kebaikan dan kita akan mendapat balasan atas kebaikan yang terjadi. begitu juga ketika kita selalu membertikan teladan dan contoh yang baik di lingkungan, sehingga orang pun meniru kebaikan itu maka kita telah memberikan syafaat yg baik. Akibatnya lingkungan kita menjadi lingkungan yg baik, yang beradab, bersih, indah; itulah syafaat yg nyata yang dapat kita rasakan di dunia.

2. Larangan memberikan syafaat yang buruk

Ketika kita mengajak orang kepada keburukan, kemaksiatan atau menjadi peyebab terjerumusnya seseorang menuju keburukan maka kita telah memberikan syafaat yg buruk. Sesungguhnya kita akan memperoleh bagian, mendapat imbas dari keburukan yg terjadi, lantaran diri kita sendiri. Bagi kaum muslim hendaknya menutup aurat dengan sempurna, lebih2 kau hawa, kalau kita bersengaja tidak menutup aurat dan ternyata membuat orang yg melihatnya jatuh kedalam kemaksiatan, siap-siaplah kelak kita terperanjat oleh banyaknya dosa yang tak kita sadari. Setiap diri punya tanggung jawab sosial, bagaimana menjadikan masyarakat aman dengan berlandaskan nilai-nilai agama, karena nilai-nilai agama Islam adalah menyelamatkan umatnya.

Syafaat Nabi Muhammad SAW

Dalam berbagai hadits dan ayat al-quran disebutkan bahwa nabi kita Muhammad SAW kelak mampu memberikan syafaat kepada umatnya dengan izin Allah demi keselamatan umat Muhammad. Apakah yang dinamakan syafaat nabi itu? yaitu ketika kita mengamalkan ajaran yg disampaikan Nabi, meneladani akhlaqnya, mencintai apa yg dicintai beliau dan takmenyukai apa yang beliau tak sukai.

(bersambung)

Kategori: Evaluasi Diri · Opini
Ditandai: , ,

Melahirkan MUHAMMAD Dalam Diri

Juli 18, 2008 · & Komentar

siapakah yang mengaku umat Muhammad?
siapakah yang berharap berada di bawah panji Muhammad kelak di Padang Mahsyar?
siapakah yang mengaku cinta kepada Muhammad?
sudahkah kau lahirkan Muhammad dalam diri kalian?
sudahkah kau lahirkan sabarnya Muhammad, sopan santunnya Muhammad
ketaqwaan Muhammad, kasih sayangnya Muhammad
kalau belum, janganlah kau mengaku2 umat Muhammad.
Muhammad bukanlah utk sekedar kau agung2kan
Muhammad bukan sekedar untuk kau sebut2 namanya
tapi peneladanan sifat2 Muhammad yg lebih diperlukan
kemudian kau lahirkan dalam keseharian kalian
kepada anak, istri, orang tua, mertua, tetangga, orang sakit, yang tertimpa musibah
apa yang Muhammad sampaikan kau patuhi dan kau kerjakan
cinta itu bukanlah sekedar di bibir, tapi butuh langkah nyata
keimanan bukan sekedar dikata-kata, tapi berbuah dalam perbuatan
ketaqwaan bukan sekedar dirasa, tapi mewarnai tingkah pola

sudahkan kau kenal Muhammad yg akan kau lahirkan sifatnya melalui diri kalian?
kalau belum,, bersegeralah…
bersamaan itu, kenalilah siapa Tuhan Muhammad
setelah itu bersiaplah menuju kedamaian

(jumat, 15 rajab 1429H, 20.15) MK Lt.5

Kategori: Evaluasi Diri · puisi
Ditandai: , ,

Hukum Sebab Akibat dan Takdir Allah

Juli 18, 2008 · & Komentar

Tulisan ini diilhami pertanyaan temen satu kantor, apakah takdir itu dan bagaimanakah sikap kita terhadap takdir ini. Mungkin kita semua tahu bahwa takdir adalah ketentuan/ketetapan Allah atas kejadian apapun yang menimpa makhluknya, termasuk manusia dan kita harus mengimaninya. Keberhasilan kita adalah ketetapan Allah, begitu pun kegagalan kita juga adalah ketetapan Allah. Dalam keterangan yang lain disebutkan bahwa semua yang terjadi di dunia ini, alam utk skala lebih besar, sudah tertulis di lauh mahfudz, katanya, semenjak dunia/alam diciptakan. Dalam nash yang lain disebutkan pena2 sudah diangkat dan tinta2 sudah kering. Hal ini menunjukkan bahwa ketetapan itu tak dapat dirubah.

Bagaimanakah kita menyikapi keterangan ini, percuma kita bersusah payah, rajin belajar, bekerja keras, toh semua sudah di atur. *sebelumnya mari kita senyum dulu…, tarik nafas…, jernihkan pikiran* :D

sebagai Muslim kita wajib percaya terhadap semua keterangan yang diberikan Allah, baik melalui Alquran, hadits qudsi, maupun hadits nabi. Pena2 sudah diangkat, benar….tinta sudah kering, benar…. hanya saja kita harus cermat dan sadar diri kalau kemampuan kita terbatas. kita seringkali hanya bisa melihat hasilnya saja dan kurang mampu melihat prosesnya. kita hanya tahu dia sukses, dia gagal, dia kecelakaan dll. Ada satu kata kunci yang perlu kita lihat juga, yaitu hukum sebab akibat. Hukum sebab akibat adalah sunnatullah, ketetapan Allah juga. Dalam alquran diterangkan: segala sesuatu ada sebab dan segala sesuatu akan mengikuti sebab itu. dari sini perlu ada pertanyaan : mengapa dia sukses, mengapa dia gagal, mengapa dia kecelakaan dll.

Apakah hukum sebab akibat bertolak belakang dengan keterangan ttg pena2 yg sudah kering? jawabannya adalah TIDAK. Justru di sinilah-kalau kita mau cermat-betapa Maha Kuasanya Allah, Maha LATHIF nya Allah, Maha Tahu-nya Allah, Maha segala-galanya Allah. ketetapan Allah itu sedemikian detail dan sangat logis bagi manusia.
Subhanallah…sungguh diri ini kecil Ya Allah,
maafkan kebodohan kami hingga kami sering salah sangka padaMu Ya Allah
sering berbuat sombong di muka bumi ini
kami sombong hingga tidak menghiraukanMu
kami sombong hingga berani melanggar laranganMu…tak peduli kepada saudara seiman, bahkan saling membunuh.
Berikan kami hidayahMu Ya Allah…
Islam agama yg kau ridloi adalah agama yg paling logis dan agama yg cinta damai

Kategori: Evaluasi Diri · Tauhid
Ditandai: , , ,

Hidup dalam Pilihan

Juni 17, 2008 · & Komentar

Kita dilahirkan ke dunia tak tau apa-apa, selain insting menangis dan menyusu. Karena kebesaran dan kasih sayang Allah lah, segala penopang kesempurnaan hidup kita kemudian Allah berikan kepada kita. Allah beri penglihatan, Allah beri pendengaran dan indera yang lain, Allah beri akal, Allah beri hati (sirr) dan masih banyak yang lain. Menginjak dewasa saat semua semakin matang, kita sudah bisa membedakan mana baik dan buruk, yang penting dan tak penting, serta hal-hal lain demi kelangsungan kehidupan kita. Di situlah “Challenge” kehidupan manusia. Setiap manusia menempuh pilihan, menjadi baik atau burukkah, menjadi bahagia atau susahkah, menjadi semakin dekat ataukah semakin jauhkah dari Allah.

Dalam surat Asy-Syams ayat 8 dan 9 dijelaskan : 

 
[91:8] maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
 
 
[91:9] sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
 
 
[91:10] dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Begitulah, pilihan bagi manusia adalah apakah ia akan menjadi orang yg menyucikan jiwanya sehingga dekat kepada Allah, atau malah mengotori jiwanya hingga jauh dari ridlo Allah. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman : siapa yg mendekat kepadaku sejengkal maka Aku mendekat sehasta, jika ia mendekat sehasta maka Aku mendekat sejengkal dst…

Hadits qudsi, diatas mengisyaratkan adanya keselarasan usaha kita mendekat kepada Allah dengan welcome-nya Allah yang selalau Menyayangi, Mengasihi, dan selalu memberi yang terbaik bagi manusia itu sendiri. 

Dalam hadits yang lain diterangkan bahwa Akal itu menunjukkan kepada hidayah. yaitu akal yang selalu dalam proses tafakkur, terhadap diri, kejadian dan seluruh ciptaanNya. Sehingga sadar dan merasakan akan kebesaran Tuhan dan mengakui akan betapa kecil diri ini. Maka iman semakin mantap, ketakwaan akhirnya berseri, derajat ihsan akan dicapai. Akhirnya tujuan Allah menciptakan manusia menjadi kholifah/kepanjangan tangan Tuhan di muka bumi terlaksana sudah.

Keputusan terakhirakan datangnya Hidayah adalah di Tangan Tuhan, Tuhan telah memberikan jalannya, tinggal bagaimana kita, mengikuti jalan Tuhan ataukah mennjauh dari Jalan Tuhan. Masing2 ada konsekuensi dan saya rasa kita semua tahu akan konsekuensi itu, Bagaimana? 

Kategori: Evaluasi Diri · Opini
Ditandai: , , ,

Qonaah

Juni 10, 2008 · & Komentar

Secara maknawi, qonaah berarti menerima apa adanya. Merasa ikhlas dengan kondisi apapun yang dialami. Dalam bahasa jawanya : “nrimo ing pandum”

Dalam sudut pandang tertentu, qonaah sering disalah artikan sehingga menjadi pemicu sebuah kemunduran, ganjalan dalam berkembangnya seseorang ke tingkatan yang lebih tinggi/baik dalam berbagai aspek kehidupan.

Memang tak salah kalau qonaah diartikan menerima apa adanya, tapi tidak berhenti hanya sampai disitu. Sikapa qonaah menuntut siapa saja untuk selalu bermuhasabah, introspeksi, seberapakah kemampuan dirinya, sehingga ia hidup secara WAJAR dan tak melampaui batas. Selanjutnya diperlukan adanya syukur, tasyakkur dan tafakkur. Syukur sebagai perwujudan menerima apa adanya, tasyakkur tercermin dari kelapangan hati dan kesabaran, tafakkur sebagai wujud evaluasi.

contoh kecil orang yang sedang usaha berjualan. suatu saat jualannya sepi. ketika ia menghadapi itu, pertama ia ikhlas, kemudian bersyukur, “Alhamdulillah…. dengan kesempitan ini Ya Allah kau ingatkan aku, kau jadikan aku mendekat kepadaMu”. Orang ini akan semakin memacu ibadahnya, sehingga semakin dekatlah ia kepada Allah, dengan ijin Allah tentunya. dengan semakin dekat kepada Allah maka semakin lapang hatinya menjalani kesempitan ini, yang ada adalah kelurusan berfikir. Langkah selanjutnya adalah tafakkur, evaluasi. Kenapa sih orang2 seakan menjauh dari tokoku, apakah karena tokoku kotor sehingga tak menarik keinginan pembeli, apakah harga jualku terlalu mahal, apakah pelayananku yg tidak disukai pembeli… evaluasi demi evaluasi dilakukan sehingga dari situ lahirlah perbaikan-perbaikan. 2 manfaat sekaligus, ibadah semakin lancar, urusan dunia semakin lancar.

Wallahu a’lam bishshowab.

Kategori: Evaluasi Diri · Nasehat Sang Bapak · Opini
Ditandai: , , ,

Ayo Kembali ke Masjid

Maret 28, 2008 · & Komentar

بسم الله الرحمن الرحيم

Masjid merupakan simbol tegaknya Islam. Untuk melihat seberapa mengakarkah nilai islam di suatu daerah/kampung, cukuplah kiranya kita lihat masjid2 dan musholla2nya. Dari seluruh jumlah penduduk berapa persenkah yang selalu sholat berjamaah di masjid/musholla???

Di zaman Nabi, Mesjid dicontohkan menjadi pusat “peradaban” Islam. Di Mesjid lah pusat penyebaran syiar islam, tempat konsolidasi kaum muslimin, tempat latihan perang, tempat pembinaan akhlaq dan ilmu, dan masih banyak yang lain. Sekarang masjid sudah banyak ditinggalkan. Seandainya sholat subuh berjamaah di setiap masjid jumlah jamaahnya seperti saat sholat jumat, insyaAllah penduduk indonesia akan makmur dan terjamin, akhlaq penduduknya mulia-mulia, Laa khoufun ‘alaiHim wa laa Hum yahzanuun (tidak akan ada ketakutan dan tak akan bersedih); dari kelaparan, dari ancaman keamanan. Karena karunia dari Allah pasti diturunkan atas mereka.

[9:18] Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (SURAT AT TAUBAH (Pengampunan) ayat 18)

kalau mau di traceback, berdasar ayat di atas, untuk menjadikan saudara-saudara kita mencintai (berjamaah dan memakmurkan) masjid terlebih dahulu harus: iman kepada Allah dan hari akhir.

1. Iman kepada Allah, berarti Tauhidnya harus benar. Ia tahu siapa Allah Tuhan Yang Esa, bagaimana sifat2Nya, bagaimana berinteraksi dengan Allah dalam kehidupan sehari-hari, serta tunduk akan ketetapan2Nya.

2. Iman kepada Hari Akhir, merupakan ekses keimanan kepada Allah. Yang iman kepada Allah pasti iman kepada janji2Nya, yaitu hari pembalasan; hari dimana semua amal perbuatan di dunia akan dihisab/dihitung untuk dibalas sesuai amalannya itu. Orang yg iman kepada hari akhir akan selalu ingat kematian yang akan menjemput tanpa permisi, sehingga senantiansa mempersiapkan diri dengan banyak melakukan ketaqwaan kepada Allah.
3. menegakkan Sholat, merupakan ciri2 orang yg selalu menjaga sholatnya, baik di kala sibuk lebih2 di kala senggang. Orang yg menegakkan sholat, semestinya tahu akan pentingnya sholat. dalam taraf tertentu sholat menjadi kebutuhan, karena saat sholatnya seorang hamba berada dalam kadaan paling dekat dengan Allah penciptanya. Sebagai sarana berkomunikasi utama dengan ALLAH. Orang seperti ini khusyu’ dalam sholatnya. Walaupun tantangannya lebih banyak untuk menjadikan sholat kita menjadi sholat yg khusyu’; yaitu bagaimana caranya menggabungkan antara RASA, AKAL dan HATI agar selalu fokus kepadaNya.

4. Menunaikan Zakat; Zakat merupkan sarana pembersihan harta kita dari “kotoran harta” yang merupakan hak para MUSTAHIQ. Orang yg menunaikan zakat dengan ikhlas tentu meyakini bahwa harta hanyalah titipan dan sarana, bukan tujuan.

5. Tidak takut kecuali kepada Allah. Tidak takut di sini adalah dalam segala hal terhadap apapun selain Allah. Dasarnya adalah Iman kepada Allah serta pengetahuan tentang Allah. Selalu merasa dalam pengawasanNya, dan mempunyai keyakinan terhadap kekuasan Allah dalam segala hal. Orang yang takut hanya kepada Allah, Allah menjadikan makhluk lain takut kepadanya.

Di ujung ayat, uniknya, ke lima kriteria itu masih diungkapkan oleh Allah bahwa MUDAH-MUDAHAN mereka termasuk orang2 yang mendapat petunjuk. Hal ini menegaskan akan kekuasan Allah untuk menentukan siapapun dari hambanya yang akan akan diberi hidayah.

Ya Allah jadikan kami dan keluarga kami termasuk orang2 yg Kau karunia hidayah itu.. Amin…

Wallahu a’lam bishshowab.

Kategori: Evaluasi Diri · Opini

Kalau kita di surga sedang anak/istri di neraka

Maret 26, 2008 · & Komentar

Allah berfirman : “Wahai orang2 yg beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”

Kewajiban seorang kepala keluarga adalah menjaga keutuhan keluarga dari segala ancaman, baik ancaman kelaparan, keamanan dan keselamatan. Agama Islam bukanlah agama yang mengajarkan umatnya utk menjadi orang yg egois, sekalipun dalam urusan agama. Tidak dibenarkan ia hanya memikirkan dirinya sendiri, walaupun selalu menuju kepada kebaikan, sedang ia membiarkan sekitarnya, keluarga terutama, sehingga jauh dari kebaikan. Kalau itu yang terjadi, maka ia akan dituntut akan tanggung jawab sosialnya.

Di hari pembalasan, saat semua orang menerima hasil perbuatannya, manusia akan terpecah menjadi 2 golongan, golongan kanan dan golongan kiri. Golongan kanan mendapat kenikmatan surga beserta isinya, begitu sebaliknya, golongan kiri mendapat siksa api neraka beserta isinya. Pada saat manusia dibangkitkan, suami lari dari istrinya, sang istri pun lari dari suami; ayah lari dari anak dan anak lari dari ayah, begitu pun ibu. Semua ketakutan dari saling dimintai pertanggung-jawaban.

Setelah penghitungan amal selesai, setelah semua menerima balasan atas amal di dunia, predikat Ahli Surga dan Ahli Neraka melekat. Ahli surga dengan segala kenikmatannya dan Ahli neraka dengan segala kepedihannya. Sebagaimana Allah gambarkan mengenai kondisi ahli surga dan ahli neraka dalam QS Al-a’rof 7:50 :

7_50.png
“Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzkikan Allah kepadamu”. Mereka [penghuni surga] menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir”

kelak, ternyata, penghuni neraka dan penghuni surga bisa saling berinteraksi(berbicara). Mereka merengek-rengek meminta kepada ahli surga akan nikmat yang telah Allah berikan. Tapi sayang sungguh disayang, semua nikmat dari surga diharamkan kepada Ahli neraka. Kalau orang yg merengek itu ternyata adalah istri kita, ternyata anak-anak kita, orang tua kita… tenangkah kita dengan kenikmatan sorga itu…??? Sudah hilangkah perasaan dan hati nurani kita…??? ataukah kita sibuk dengan para bidadari nan cantik dan jelita itu…??? Subhanallah… wAllahu Akbar… Ataukah lebih membahagiakan mana ketika di dalam surga kelak, kita, anak, istri dan seluruh keluarga kembali berkumpul, kembali bersama memuji dan men-sucikan Allah… bersama sama menatap WAJAH AGUNGnya…. ohhh.. Yaa Huu..Kumpulkan aku dan seluruh keluargaku dalam kenikmatan pertemuan denganMu Ya Allah… Hasbiyallah wani’mal wakiil, ni’mal mawla wa ni’man-nashir… La hawla wa laa quwwata illa billahil-’aliyyil ‘adhim. Tiada daya kecuali dayamu.

wallahu a’lam bishshowab.

Kategori: Evaluasi Diri · Seputar Anak
Ditandai: , ,

Innalillah Wa inna ilaihi Roji’un

Maret 18, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

Persepsi pertama saya dan mungkin anda juga akan tertuju pada sebuah musibah, baik kematian ataupun kejadian-kejadian lain yang menyedihkan. Tidak salah memang kalau kita mengucapkan kalimah tersebut saat ada yg meninggal atau terkena musibah. Ada sisi lain yang (mungkin) terlewatkan yg sebenarnya sangat penting memaknai kalimah itu. Yuk kita telusuri…
انالله و انا اليه راجعون kalau kita terjemahkan secara harfiah: “sesungguhnya kami(aku) milik/untuk Allah dan sesungguhnya kepadaNya kami kembali”.Kata “Inna” dalam bahasa arab menunjukkan penegasan terhadap kata setelah inna. Kata “li” (seperti pernah dibahas pada tulisan sebelumnya pada penjabaran Alhamdulillah bisa berarti milik atau untuk. Ketika kita mengartikan “li” menjadi milik berarti kalimah innalillah wa inna ilaihi rojiun menyatakan bahwasanya kita milik Allah. Karena kita milik Allah, maka kita pun harus tunduk kepada pemilik kita. Hidup kita, nyawa kita, seluruh anggota tubuh kita, akal, hati, dan apapun yang kita miliki pada hakikatnya adalah milik Pemilik kita, Allah. Begitu juga dengan anak istri, semua kekayaan kita.

Setiap waktu, atau minim setiap pagi, saat mengawali hari, ikrarkan pengakuan bahwa kita adalah milik ALLAH… Jika rutin kita lakukan, maka rasa bahwa kita adalah milik Allah, akan terukir dalam hati dan benak kita; jika rasa bahwa kita adalah milik Allah kuat maka selanjutnya akan timbul bahwa semua yg ada atau melekat pada diri kita adalah titipan Allah, jika rasa bahwa semua yg berkaitan dengan diri kita adalah titipan Allah maka akan lahir rasa menjaga Amanah, kesombongan pun memudar. Jika rasa menjaga amanah mengakar di hati, akan lahir lagi kehati-hatian. Dengan kehati-hatianlah… kita akan selamat, di dunia dan akhirat…. insyaAllah.

Wallahu a’lam bishshowab.

Kategori: Evaluasi Diri · Nasehat Sang Bapak · Tauhid

Muhammad, Sang Pembawa Berita Gembira

Maret 11, 2008 · & Komentar

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

Alhamdulillah… sudah masuk hari ke 4 bulan yang mulia, bulan kelahiran Junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Robiul awwal menjadi mulia karena lahirnya manusia mulia, pembawa kabar gembira dan peringatan serta menjadi rahmat bagi sekalian alam. Dalam sebuah hadits, Dari Jabir disebutkan Nabi SAW Bersabda: “wahai Jabir, sesungguhnya makhluk pertama yg diciptakan Allah adalah Nur Nabimu Muhammad SAW”.

Sebelum alam jagad raya ada, ketika Allah hanya dalam “kesendiriannya”, diciptakanlah Nur Muhammad, yang karena keindahannya pulalah akhirnya Allah juga menciptakan makhluq2 lain, termasuk alam jagad raya ini. Makhluk pertama, akan tetapi diturunkan di akhir zaman, subhanallah… Maha Suci Allah Sang Maha Sutradara… dan berbahagialah kita menjadi umat beliau, yang senantiasa memberikan syafaat kepada umatnya di dunia dan akhirat kelak, dg ijin Allah insyaAllah….

Muhammad pembawa risalah langit, Allah hiasi dengan akhlaq yang mulia, dan diutus untuk menyempurnakan akhlaq yg mulia (انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق). Kita  umatnya WAJIB menghiasi perangai kita dengan akhlaq yg mulia. Sebagai bukti kecintaan kita pada beliau, sebagai bukti kepatuhan akan risalah yg beliau bawa. Kehadirannya dirindukan, sorot matanya penuh kasih sayang, tutur katanya meneduhkan, syafaatnya pun dinantikan. Manusia agung pembawa panji Islam, agama tertinggi yang tiada agama lain yg melebihi ketinggiannya. Allah dan malaikatNya bersholawat kepada Nabi, kita manusia yg mengaku beriman diajarkan utk bersholawat dan bersalam dengan sebenar salam atas Beliau.

Yang mengaku cinta, ayo teladani akhlaq Nabi. Yang mengaku taat, ayo teruskan risalahnya… kepada diri, anak, istri, suami dan kepada lingkungan. Hadirkan “RASA MUHAMMAD” dalam diri ini, sebagai pantulan “sosok” Nabi termulia. Keimanan yang kuat akan Allah, akan janji Allah, akan ketetapan Allah, selalu berhusnudzdzon, selalu memaafkan, menyantuni dan memberi petunjuk.

Muhammad telah sampaikan janji Allah akan balasan yg baik dari Allah, bagi siapa saja yang menetapi jejak langkahnya: pertolongan dari Allah, perlindungan dari Allah, Rahmat dan kasih sayang Allah, perjumpaan dengan Rasul Allah, dan kenikmatan hakiki… perjumpaan dengan Allah di surga kelak. Ya Allah … perjumpaan itu kurindukan… kan kubawa anak istriku bersamaku… kepadaMu…

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

Kategori: Evaluasi Diri · Tauhid
Ditandai: ,

Sebesar apakah (kesombongan) kita?

Februari 25, 2008 · & Komentar

Allahu Akbar…!!!

Hasil penelitian para ilmuan berhasil mendeskripsikan alam jagad raya dalam beberapa gambar berikut; Alam jagad raya sebegitu luas dan besarnya…. seberapa besarkah (kesombongan) kita dihadapanNya…???

BUMI DAN PLANET SEKITAR

BUMI DAN PLANET LEBIH BESAR

PLANET2 DAN MATAHARI

MATAHARI DAN GALAXY

GALAXY DAN GALAXY LAIN

Kategori: Evaluasi Diri · Tauhid · my Inspiration
Ditandai: , , ,