Secara maknawi, qonaah berarti menerima apa adanya. Merasa ikhlas dengan kondisi apapun yang dialami. Dalam bahasa jawanya : “nrimo ing pandum”
Dalam sudut pandang tertentu, qonaah sering disalah artikan sehingga menjadi pemicu sebuah kemunduran, ganjalan dalam berkembangnya seseorang ke tingkatan yang lebih tinggi/baik dalam berbagai aspek kehidupan.
Memang tak salah kalau qonaah diartikan menerima apa adanya, tapi tidak berhenti hanya sampai disitu. Sikapa qonaah menuntut siapa saja untuk selalu bermuhasabah, introspeksi, seberapakah kemampuan dirinya, sehingga ia hidup secara WAJAR dan tak melampaui batas. Selanjutnya diperlukan adanya syukur, tasyakkur dan tafakkur. Syukur sebagai perwujudan menerima apa adanya, tasyakkur tercermin dari kelapangan hati dan kesabaran, tafakkur sebagai wujud evaluasi.
contoh kecil orang yang sedang usaha berjualan. suatu saat jualannya sepi. ketika ia menghadapi itu, pertama ia ikhlas, kemudian bersyukur, “Alhamdulillah…. dengan kesempitan ini Ya Allah kau ingatkan aku, kau jadikan aku mendekat kepadaMu”. Orang ini akan semakin memacu ibadahnya, sehingga semakin dekatlah ia kepada Allah, dengan ijin Allah tentunya. dengan semakin dekat kepada Allah maka semakin lapang hatinya menjalani kesempitan ini, yang ada adalah kelurusan berfikir. Langkah selanjutnya adalah tafakkur, evaluasi. Kenapa sih orang2 seakan menjauh dari tokoku, apakah karena tokoku kotor sehingga tak menarik keinginan pembeli, apakah harga jualku terlalu mahal, apakah pelayananku yg tidak disukai pembeli… evaluasi demi evaluasi dilakukan sehingga dari situ lahirlah perbaikan-perbaikan. 2 manfaat sekaligus, ibadah semakin lancar, urusan dunia semakin lancar.
Wallahu a’lam bishshowab.

7 tanggapan so far ↓
ubadbmarko // Juni 11, 2008 pada 11:41 am |
Suatu hal yang mudah diucapkan tapi sulit dilaksankan, maunya ngumpat, sumpah serampah, aral dll. semoga saja kita dapat belajar qonaah.
Ansori // Juni 11, 2008 pada 11:55 am |
betul sekali mas… saya pribadi sebenarnya kadang ngeri nulis hal2 yg ideal, setiap nulis saya niatkan sharing apa yg pernah saya dapat saat mengaji tauhid. lebih2 sebgai peringatan buat saya pribadi yg sering luput dalam ucapan
… astaghfirullah
salam kenal dan salam persaudaraan
realylife // Juni 11, 2008 pada 12:40 pm |
betul sekali
saya setuju pak
maaf nich dah lama ngga mampir
Ansori // Juni 13, 2008 pada 2:32 am |
met datang kembali mas..
Ibnu Abdul Muis // Juni 13, 2008 pada 9:15 am |
Qanaah, sebuah sikap yang sepertinya mudah namun sangat sulit dalam implementasi. Naluri manusia, terkadang kecenderungan hati lebih memaksa kita untuk bisa memenuhi semua kebutuhan kita dengan instan. Keluar rumah nggak mau panas, nggak mau capek, nggak mau mencium bau yang tidak sedap. Nafsu memaksa untuk memperoleh kendaraan. Setelah kerja keras, akhirnya Allah beri kita motor. Tapi setelah mendapat motor, timbul lagi keinginan lain, tidak mau kehujanan, ingin merasa sejuk, ingin nyaman, tidak mau kena asap knalpot. Akhirnya nafsu memaksa untuk memperoleh mobil. Setelah Allah memberi mobil, timbul nafsu lain lagi, ingin mobil yang mewah, yang besar dan sebagainya. Wallahi, jika kita terus mengikuti nafsu kita, maka qana’ah yang kita harapkan tidak akan pernah menjadi kenyataan. Wallahu’alam bishawab. Jazakallah, article yang bermakna. Salam kenal pak Ansori.
Mohamad Azaludin Abdul Aziz // Juli 2, 2008 pada 8:58 am |
Ya redho, dengan tanggapan itulah yang paling baik (terbaik) anugerahNya buat kita…
Salam perkenalan dari Kuala Lumpur Malaysia.
fauzan // April 22, 2009 pada 4:49 am |
nafsu dieprlukan?1 maksudnya dos pundi?!