Hidup seKilas

Masukan dari Maret 2008

Ayo Kembali ke Masjid

Maret 28, 2008 · & Komentar

بسم الله الرحمن الرحيم

Masjid merupakan simbol tegaknya Islam. Untuk melihat seberapa mengakarkah nilai islam di suatu daerah/kampung, cukuplah kiranya kita lihat masjid2 dan musholla2nya. Dari seluruh jumlah penduduk berapa persenkah yang selalu sholat berjamaah di masjid/musholla???

Di zaman Nabi, Mesjid dicontohkan menjadi pusat “peradaban” Islam. Di Mesjid lah pusat penyebaran syiar islam, tempat konsolidasi kaum muslimin, tempat latihan perang, tempat pembinaan akhlaq dan ilmu, dan masih banyak yang lain. Sekarang masjid sudah banyak ditinggalkan. Seandainya sholat subuh berjamaah di setiap masjid jumlah jamaahnya seperti saat sholat jumat, insyaAllah penduduk indonesia akan makmur dan terjamin, akhlaq penduduknya mulia-mulia, Laa khoufun ‘alaiHim wa laa Hum yahzanuun (tidak akan ada ketakutan dan tak akan bersedih); dari kelaparan, dari ancaman keamanan. Karena karunia dari Allah pasti diturunkan atas mereka.

[9:18] Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (SURAT AT TAUBAH (Pengampunan) ayat 18)

kalau mau di traceback, berdasar ayat di atas, untuk menjadikan saudara-saudara kita mencintai (berjamaah dan memakmurkan) masjid terlebih dahulu harus: iman kepada Allah dan hari akhir.

1. Iman kepada Allah, berarti Tauhidnya harus benar. Ia tahu siapa Allah Tuhan Yang Esa, bagaimana sifat2Nya, bagaimana berinteraksi dengan Allah dalam kehidupan sehari-hari, serta tunduk akan ketetapan2Nya.

2. Iman kepada Hari Akhir, merupakan ekses keimanan kepada Allah. Yang iman kepada Allah pasti iman kepada janji2Nya, yaitu hari pembalasan; hari dimana semua amal perbuatan di dunia akan dihisab/dihitung untuk dibalas sesuai amalannya itu. Orang yg iman kepada hari akhir akan selalu ingat kematian yang akan menjemput tanpa permisi, sehingga senantiansa mempersiapkan diri dengan banyak melakukan ketaqwaan kepada Allah.
3. menegakkan Sholat, merupakan ciri2 orang yg selalu menjaga sholatnya, baik di kala sibuk lebih2 di kala senggang. Orang yg menegakkan sholat, semestinya tahu akan pentingnya sholat. dalam taraf tertentu sholat menjadi kebutuhan, karena saat sholatnya seorang hamba berada dalam kadaan paling dekat dengan Allah penciptanya. Sebagai sarana berkomunikasi utama dengan ALLAH. Orang seperti ini khusyu’ dalam sholatnya. Walaupun tantangannya lebih banyak untuk menjadikan sholat kita menjadi sholat yg khusyu’; yaitu bagaimana caranya menggabungkan antara RASA, AKAL dan HATI agar selalu fokus kepadaNya.

4. Menunaikan Zakat; Zakat merupkan sarana pembersihan harta kita dari “kotoran harta” yang merupakan hak para MUSTAHIQ. Orang yg menunaikan zakat dengan ikhlas tentu meyakini bahwa harta hanyalah titipan dan sarana, bukan tujuan.

5. Tidak takut kecuali kepada Allah. Tidak takut di sini adalah dalam segala hal terhadap apapun selain Allah. Dasarnya adalah Iman kepada Allah serta pengetahuan tentang Allah. Selalu merasa dalam pengawasanNya, dan mempunyai keyakinan terhadap kekuasan Allah dalam segala hal. Orang yang takut hanya kepada Allah, Allah menjadikan makhluk lain takut kepadanya.

Di ujung ayat, uniknya, ke lima kriteria itu masih diungkapkan oleh Allah bahwa MUDAH-MUDAHAN mereka termasuk orang2 yang mendapat petunjuk. Hal ini menegaskan akan kekuasan Allah untuk menentukan siapapun dari hambanya yang akan akan diberi hidayah.

Ya Allah jadikan kami dan keluarga kami termasuk orang2 yg Kau karunia hidayah itu.. Amin…

Wallahu a’lam bishshowab.

Kategori: Evaluasi Diri · Opini

Iman, Bukan berarti sebuah “Angka Mati”

Maret 26, 2008 · & Komentar

mari kita simak 2 kasus berikut :

1.—————


[2:260] Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah {165} semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 260)

2.—————

y
[19:7] Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.
 

[19:8] Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”.
 

[19:9] Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”.
 
[19:10] Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”. Tuhan berfirman: “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat”.
 

—————
Iman sarangnya adalah di dada, lebih tepatnya dalam hati.

hati, sifatnya berbolak balik. Konklusinya: iman akan naik-turun.

kalau melihat 2 kasus NABI dalam al-quran seperti di atas, bukanlah sebuah kesalahan kalau dalam mengimani sesuatu masih ada “pertanyaan”; dalam rangka peningkatan keimanan itu sendiri. Dalam praktik, hal ini banyak saya alami ketika belajar tawakkal. Alhamdulillah dengan justifikasi 2 kasus di atas semakin banyak pencerahan-pencerahan yang saya dapatkan. (bersambung… dah jam pulang kantor :D )

Kategori: Opini

Kalau kita di surga sedang anak/istri di neraka

Maret 26, 2008 · & Komentar

Allah berfirman : “Wahai orang2 yg beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”

Kewajiban seorang kepala keluarga adalah menjaga keutuhan keluarga dari segala ancaman, baik ancaman kelaparan, keamanan dan keselamatan. Agama Islam bukanlah agama yang mengajarkan umatnya utk menjadi orang yg egois, sekalipun dalam urusan agama. Tidak dibenarkan ia hanya memikirkan dirinya sendiri, walaupun selalu menuju kepada kebaikan, sedang ia membiarkan sekitarnya, keluarga terutama, sehingga jauh dari kebaikan. Kalau itu yang terjadi, maka ia akan dituntut akan tanggung jawab sosialnya.

Di hari pembalasan, saat semua orang menerima hasil perbuatannya, manusia akan terpecah menjadi 2 golongan, golongan kanan dan golongan kiri. Golongan kanan mendapat kenikmatan surga beserta isinya, begitu sebaliknya, golongan kiri mendapat siksa api neraka beserta isinya. Pada saat manusia dibangkitkan, suami lari dari istrinya, sang istri pun lari dari suami; ayah lari dari anak dan anak lari dari ayah, begitu pun ibu. Semua ketakutan dari saling dimintai pertanggung-jawaban.

Setelah penghitungan amal selesai, setelah semua menerima balasan atas amal di dunia, predikat Ahli Surga dan Ahli Neraka melekat. Ahli surga dengan segala kenikmatannya dan Ahli neraka dengan segala kepedihannya. Sebagaimana Allah gambarkan mengenai kondisi ahli surga dan ahli neraka dalam QS Al-a’rof 7:50 :

7_50.png
“Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzkikan Allah kepadamu”. Mereka [penghuni surga] menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir”

kelak, ternyata, penghuni neraka dan penghuni surga bisa saling berinteraksi(berbicara). Mereka merengek-rengek meminta kepada ahli surga akan nikmat yang telah Allah berikan. Tapi sayang sungguh disayang, semua nikmat dari surga diharamkan kepada Ahli neraka. Kalau orang yg merengek itu ternyata adalah istri kita, ternyata anak-anak kita, orang tua kita… tenangkah kita dengan kenikmatan sorga itu…??? Sudah hilangkah perasaan dan hati nurani kita…??? ataukah kita sibuk dengan para bidadari nan cantik dan jelita itu…??? Subhanallah… wAllahu Akbar… Ataukah lebih membahagiakan mana ketika di dalam surga kelak, kita, anak, istri dan seluruh keluarga kembali berkumpul, kembali bersama memuji dan men-sucikan Allah… bersama sama menatap WAJAH AGUNGnya…. ohhh.. Yaa Huu..Kumpulkan aku dan seluruh keluargaku dalam kenikmatan pertemuan denganMu Ya Allah… Hasbiyallah wani’mal wakiil, ni’mal mawla wa ni’man-nashir… La hawla wa laa quwwata illa billahil-’aliyyil ‘adhim. Tiada daya kecuali dayamu.

wallahu a’lam bishshowab.

Kategori: Evaluasi Diri · Seputar Anak
Ditandai: , ,

Innalillah Wa inna ilaihi Roji’un

Maret 18, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

Persepsi pertama saya dan mungkin anda juga akan tertuju pada sebuah musibah, baik kematian ataupun kejadian-kejadian lain yang menyedihkan. Tidak salah memang kalau kita mengucapkan kalimah tersebut saat ada yg meninggal atau terkena musibah. Ada sisi lain yang (mungkin) terlewatkan yg sebenarnya sangat penting memaknai kalimah itu. Yuk kita telusuri…
انالله و انا اليه راجعون kalau kita terjemahkan secara harfiah: “sesungguhnya kami(aku) milik/untuk Allah dan sesungguhnya kepadaNya kami kembali”.Kata “Inna” dalam bahasa arab menunjukkan penegasan terhadap kata setelah inna. Kata “li” (seperti pernah dibahas pada tulisan sebelumnya pada penjabaran Alhamdulillah bisa berarti milik atau untuk. Ketika kita mengartikan “li” menjadi milik berarti kalimah innalillah wa inna ilaihi rojiun menyatakan bahwasanya kita milik Allah. Karena kita milik Allah, maka kita pun harus tunduk kepada pemilik kita. Hidup kita, nyawa kita, seluruh anggota tubuh kita, akal, hati, dan apapun yang kita miliki pada hakikatnya adalah milik Pemilik kita, Allah. Begitu juga dengan anak istri, semua kekayaan kita.

Setiap waktu, atau minim setiap pagi, saat mengawali hari, ikrarkan pengakuan bahwa kita adalah milik ALLAH… Jika rutin kita lakukan, maka rasa bahwa kita adalah milik Allah, akan terukir dalam hati dan benak kita; jika rasa bahwa kita adalah milik Allah kuat maka selanjutnya akan timbul bahwa semua yg ada atau melekat pada diri kita adalah titipan Allah, jika rasa bahwa semua yg berkaitan dengan diri kita adalah titipan Allah maka akan lahir rasa menjaga Amanah, kesombongan pun memudar. Jika rasa menjaga amanah mengakar di hati, akan lahir lagi kehati-hatian. Dengan kehati-hatianlah… kita akan selamat, di dunia dan akhirat…. insyaAllah.

Wallahu a’lam bishshowab.

Kategori: Evaluasi Diri · Nasehat Sang Bapak · Tauhid

Muhammad, Sang Pembawa Berita Gembira

Maret 11, 2008 · & Komentar

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

Alhamdulillah… sudah masuk hari ke 4 bulan yang mulia, bulan kelahiran Junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Robiul awwal menjadi mulia karena lahirnya manusia mulia, pembawa kabar gembira dan peringatan serta menjadi rahmat bagi sekalian alam. Dalam sebuah hadits, Dari Jabir disebutkan Nabi SAW Bersabda: “wahai Jabir, sesungguhnya makhluk pertama yg diciptakan Allah adalah Nur Nabimu Muhammad SAW”.

Sebelum alam jagad raya ada, ketika Allah hanya dalam “kesendiriannya”, diciptakanlah Nur Muhammad, yang karena keindahannya pulalah akhirnya Allah juga menciptakan makhluq2 lain, termasuk alam jagad raya ini. Makhluk pertama, akan tetapi diturunkan di akhir zaman, subhanallah… Maha Suci Allah Sang Maha Sutradara… dan berbahagialah kita menjadi umat beliau, yang senantiasa memberikan syafaat kepada umatnya di dunia dan akhirat kelak, dg ijin Allah insyaAllah….

Muhammad pembawa risalah langit, Allah hiasi dengan akhlaq yang mulia, dan diutus untuk menyempurnakan akhlaq yg mulia (انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق). Kita  umatnya WAJIB menghiasi perangai kita dengan akhlaq yg mulia. Sebagai bukti kecintaan kita pada beliau, sebagai bukti kepatuhan akan risalah yg beliau bawa. Kehadirannya dirindukan, sorot matanya penuh kasih sayang, tutur katanya meneduhkan, syafaatnya pun dinantikan. Manusia agung pembawa panji Islam, agama tertinggi yang tiada agama lain yg melebihi ketinggiannya. Allah dan malaikatNya bersholawat kepada Nabi, kita manusia yg mengaku beriman diajarkan utk bersholawat dan bersalam dengan sebenar salam atas Beliau.

Yang mengaku cinta, ayo teladani akhlaq Nabi. Yang mengaku taat, ayo teruskan risalahnya… kepada diri, anak, istri, suami dan kepada lingkungan. Hadirkan “RASA MUHAMMAD” dalam diri ini, sebagai pantulan “sosok” Nabi termulia. Keimanan yang kuat akan Allah, akan janji Allah, akan ketetapan Allah, selalu berhusnudzdzon, selalu memaafkan, menyantuni dan memberi petunjuk.

Muhammad telah sampaikan janji Allah akan balasan yg baik dari Allah, bagi siapa saja yang menetapi jejak langkahnya: pertolongan dari Allah, perlindungan dari Allah, Rahmat dan kasih sayang Allah, perjumpaan dengan Rasul Allah, dan kenikmatan hakiki… perjumpaan dengan Allah di surga kelak. Ya Allah … perjumpaan itu kurindukan… kan kubawa anak istriku bersamaku… kepadaMu…

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

Kategori: Evaluasi Diri · Tauhid
Ditandai: ,