Hidup seKilas

Menyelami Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar

Februari 19, 2008 · & Komentar

tulisan ini menjawab permintaan dari sdr ridwan yg sudah hengkang ke NEC ;)

(Mudah-mudahan tidak terkesan menggurui… )

Bacaan tasbih, tahmid dan takbir merupakan bacaan-bacaan terpuji (kalimah thoyyibah). Untuk dapat menghayati ketiga dzikir di atas mari kita tinjau pengertian dari masing-masing kalimah di atas:

-Subhanallah : Maha Suci (Engkau) Allah
dalam kita berdialog dengan Allah, baik dalam sholat maupun dalam dzikir, puji-pujian, yang perlu kita tekankan ada plus (+) dan minus (-). plus di sisi Allah minus di sisi kita, hambanya. Kalau di dalam sholat, mengingat waktunya singkat, di saat kita baca diusahakan dalam benak kita langsung terlintas dan dirasakan ke-Maha SucianNya (dari sifat lemah, salah, butuh dll) dan pengakuan sifat lemah kita, salah dan butuh kita padaNya. 2 task sekali waktu (berbarengan)

Saat kita baca subhanallah….dg teringat tafsirnya, kita paparkan dalam hati….Maha suci engkau Ya Allah, hanya engkaulah yang suci, diriku kotor ya Allah…
Subhanallah… Maha suci engkau dari sifat lemah, sedang kekuatanku tiada apa-apanya di hadapanmu…
subhanallah… Maha suci engkau dari mendlolimi, akulah hambamu yang dlolim…

- Alhamdulilllah : segala puji untuk(mu) Allah
kata ” li” dalam bahasa arab, utk bacaan tahmid bisa berarti untuk, bisa juga berarti milik. Alhamdulillah = segala puji hanya untukMu ya Allah, atau segala puji hanya milikmu. Mari kita tengok ke dalam diri kita, ketika kita mendapat nikmat, atau kabar gembira, saat kita mengucap alhamdulillah, yg terpikir di benak kita itu kita memuji Allah karena telah memberi nikmat atau kabar gembira saja, ataukah ada penjabaran yang lain. Dalam hampir semua tulisan-tulisan sebelumnya penjabaran itu selalu saya kedepankan, karena dari penjabaran itulah RASA bisa hadir, pemahaman dan keyakinan menjadi kuat. Misal ketika kita mendapat rizki tambahan, terucap Alhamdulillah… di hati dan pikiran kita spontan berkata : Terimakasih Ya Allah, segala puji hanya untukmu Wahai Tuhan yang Maha pemurah, Maha tahu akan kebutuhanku, Maha bijaksana dalam semua ketetapan-ketetapanMu, dst…..

Ada hal lain yang bisa dipraktekkan agar “Alhamdulillah” bisa mencegahkita dari “kibr” alias sombong, terutama ketika mendengar pujian dari orang lain. Yaitu kita langsung menterjemahkan nya menjadi : Segala puji hanya milikmu Ya Allah, bukan milikku. Ketampanan/kecantikan (misal orang memuji ketampanan/kecantikan kita) ini milikmu Ya Allah, kepandaian ini milikmu Ya Allah tak pantas aku menyombongkannya dan merasa besar diri di hadapanMu ataupun dihadapan yg lain.

-Allahu Akbar : Allah Maha Besar
Kata “Akbar” merupakan bentuk “the most” dari Kabir, yang artinya besar; maka artinya paling besar, karena untuk Tuhan menjadi Maha Besar. Dalam konteks yang lain berdasar Wazan nya kata Akbar juga bisa berarti lebih besar.
Saat kita ucapkan Allahu Akbar, terucap juga dalam diri kita: “Ya Allah… engkau yg Maha besar, Aku kecil ya Allah, tidak ada seper-berapa-punnya dibandingkan Engkau…Kalau kulihat diriku dan luas tanah lapang yg ada didepanku sudah tak berbanding, apalagi diukur dengan luas seluruh daratanMu di bumi, langitMui…, sistem tata surya…, gugusan-gugusan galaksi….Ohh…Ya Huw…. Allaahu Akbar… Sungguh besar kekuasaanMu yg telah menciptakan alam jagad yang Maha besar, kutundukkan diriku, pasrah akan segala ketetapanMu. dst… “
Dzat Allah hanya Allah yg tahu, dan kita dilarang untuk memikirkannya. Kita dianjurkan untuk memikirkan ciptaan-ciptaannya untuk mengambil ‘ibroh atau pelajaran darinya, yang mendekatkan pemahaman kita akan ke-Maha-an Allah.

Wallahu a’lam bishshowab.

Kategori: Evaluasi Diri · Nasehat Sang Bapak · Tauhid
yang berkaitan: , , , , ,

6 tanggapan so far ↓

  • Sawali Tuhusetya // Februari 19, 2008 pada 7:28 am

    wah, makasih mas ansori. selalu ada pencerahan baru buat saya setiap kali berkunjung kemari. semoga saya bisa istikomah untukselalu ingat asma-Nya yang Maha Besar. Subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar!

    Alhamdulillah…, saya sekedar sharing aja pak… karena dengan metode2 ini (kunci utamanya bertauhid, mengenal Allah, salah satunya juga melalui asmaul husna), pribadi saya merasakan hal yang “berbeda” dalam berTuhan, dan dalam menjalani kehidupan ini…lebih santai dan tegar

  • alfaroby // Februari 20, 2008 pada 7:24 am

    MasyaAllah…. tulisan yang sangat menyejukkan… Alhamdulillah saya mampir kesini… Allahu Akbar atas segala yang di berikan kepada kita semua…Subhanallah….

    Segala Puji hanya milik Allah…..

  • Ersis W. Abbas // Februari 25, 2008 pada 8:06 am

    Bagus sebagai bahan renungan … Allah menampakkan kekuasaan dan kebesarnya melalui tanda-tandaNya. Ya tergantung kita memaknainya.

    Memaknainya juga tergantung informasi2 yg kita punya kan Pak Ersis… semakin banyak informasi semakin luas cara pandang kita…hasilnya semakin menyeluruh, (mudah2an) mendekati kebenaran yg sesungguhnya

  • bening1 // Maret 8, 2008 pada 12:39 pm

    Sesungguhnya jika Allah menghendaki kebaikan pada seseorang,maka dia akan faham agama,hidup zuhud,dan menyadari aib-aibnya sendiri. Subhanaallah.. Alhamdulilah..wa Allahu Akbar..

    Saya jamaah At-Tadzkir di Kemayoran,senang sekali bisa ketemu di wordpress.

    Alhamdulillah… mari kita saling mengingatkan untuk selalu dzikr kepada Allah…. saya tambahin di blogroll yah ;)

  • Innalillah Wa inna ilaihi Roji’un « Hidup seKilas // Maret 18, 2008 pada 12:40 pm

    [...] penegasan terhadap kata setelah inna. Kata “li” (seperti pernah dibahas pada tulisan sebelumnya pada penjabaran Alhamdulillah bisa berarti milik atau untuk. Ketika kita mengartikan “li” menjadi milik berarti [...]

  • Mas agus // Mei 5, 2008 pada 1:08 pm

    Subhanallah .mudah-mudahan orang yg membaca dapat merenungkan…sesungghya apabila allah menghedakiki kebaikan maka orang itu akan dipahamkan agama allah.sadar dengan haip yg diperbuatnya


    Amin… Yuk saling berwasiat dalam kebaikan…

Tinggalkan Komentar