Hidup seKilas

Perbaharui Iman dengan “Laa ilaaha illallah”

Januari 2, 2008 · & Komentar

Rasulullah SAW bersabda:”Perbaharui iman kalian dengan laa ilaaha illallah…”Pertanyaan manakah yang benar, apakah : bagaimanakah laa ilaaha illallah mampu memperbarui iman kita? ataukah : laa ilaaha illallah yang bagaimanakah yang bisa memperbaharui iman kita. Yang pertama menjadi subjek, yang kedua, laa ilaaha illallah menjadi objek.

Kalimat tahlil (laa ilaaha illallah, red) sebagai subjek perlu pengetahuan spiritual yang sangat tinggi untuk mengungkapnya, yang paling pas bagi kita adalah bagaimana menjadikan kalimat tahlil ini sebagai media kita menuju peningkatan iman kita. Salah satu komponen dari tahlil yang perlu ditekankan di sini adalah di kata ilah, yg biasa diartikan “TUHAN”. Untuk menjabarkan kaliamat “Tiada Ilah/Tuhan selain Allah”, kita harus merujuk ke pengertian asal katanya, yaitu dalam bahasa Arab.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan definisi al ilah sebagai berikut: Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati; tunduk kepadanya, merendahkan diri di hadapannya, takut dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdo’a dan bertawakkal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya. (Dr. Yusuf Qardawi: “Tauhid dan Fenomena Kemusyrikan, (Haqiqat Al-Tauhid) terjemahan H. Abd. Rahim Haris, Pustaka Darul Hikmah, Bima, hal. 26 – 27).

Dari definisi di atas, kalau kita jabarkan, Laa ilaaha illallah berati : tidak ada yang dipuja dengan sepenuh kecintaan hati kecuali ALLAH, tidak ada tempat bertunduk kecuali kepada ALLAH, dst…. Sedikit contoh penjabaran bisa dilihat kembali tulisan sebelumnya : menjiwakan laa ilaaha illallah .

Bagaimanakah menghunjamkan kalimat tahlil ini dengan penuh kesadaran ke dalam hati kita??? Metode yang dapat kita ambil adalah sering-sering mengingatkan diri kita akan arti dan makna “laa ilaaha illallah” disertai penjabarannya. Misal selepas sholat, saat lisan kita mengucap “laa ilaaha illallah” jabarkan artinya dalam hati, resapi, rasakan kita seolah2 melihat dan berhadapan langsung denganNya, atau minimal merasa diawasiNya.

Step berikutnya adalah bagaimana mengaktualisasikan Ikrar “laa ilaaha illallah” kita. Orang tidak dikatakan berikrar bahwa tidak ada yg dipuja dengan sepenuh hati kecuali ALLAH kalau masih ada yang dipuja selainNya, orang tidak dikatakan berikrar bahwa tidak ada tempat berpasrah selain ALLAH kalau ia masih berpasrah kepada selainNya, dst dst…

Semakin sering kita lakukan hal ini, insyaAllah akan membekas dalam hati, tercermin dalam tingkah laku kita. Menjadi halus tutur kata kita, semakin terpuji akhlaq kita, semakin banyak kepatuhan lahir dari diri kita. Wallahu A’lam Bishshowab

Kategori: Nasehat Sang Bapak · Tauhid

7 tanggapan so far ↓

  • kurtubi // Januari 2, 2008 pada 10:00 am | Balas

    semoga saya bisa menghujamkan lebih dalam ke hati makna dan hikmah dari Laaa Ilaaha Ilalllaah…

  • Ansori // Januari 2, 2008 pada 10:04 am | Balas

    Amin…. insyaAllah Allah pasti mempermudah orang yg bersungguh2…

  • Ram-Ram Muhammad // Januari 3, 2008 pada 3:20 am | Balas

    Semoga saya senantiasa bisa memperbaharui dua kalimat syahadat saya dengan sungguh-sungguh.. Doakan ya Cak Ri

    Amin… saya tolong didoakan Gus [-o<

  • sufipejuang // Januari 3, 2008 pada 5:25 am | Balas

    Per definisi, iman adalah diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dilaksanakan dengan perbuatan. Jadi, iman adalah satunya antara keyakinan, kata dan perbuatan.

    Orang yang yakin dan mengucapkan dg lisan tapi perbuatannya tidak sesuai, dia digelari dg gelaran mukmin ‘asi (mukmin yang durhaka)

    Orang yang mengucapkan dan mengamalkan tetapi tidak yakin maka dia adalah munafik.

    Jadi, maksud Hadist Rasulullah bahwa dg “laa ilaaha illallah…” akan memperbaharui iman tentu saja bukan ucapan lisan saja. Tetapi ucapan lisan yang disertai keyakinan bahwa cukup Allah bagiku, cukup hukum Allah untuk kutaati, cukup hanya Allah tempatku meminta dan memuja. Tak cukup hanya diucap dan diyakini tetapi juga diamalkan dg perbuatan seluruh tuntutan dari kalimah “laa ilaaha illallah…”.

    Apa saja tuntutan kalimah ini?
    Bisa di simak di sini:
    http://sufipejuang.wordpress.com/2008/01/03/tuntutan-kalimah-syahadat/

    Sepakat sekali mas…

  • Sawali Tuhusetya // Januari 3, 2008 pada 9:59 am | Balas

    sepertinya gampang ya mas mengucapkan kalimah laaillahailallah. ternyata setelah diresapi maknya ada penafsiran yang luas dan mendalam. tak cukup diikrarkan, tetapi juga perlu diwujudkan dalam perilaku nyata dengan tidak menyembah selain kepada-Nya. Wah, trims banget Mas pencerahannya.

    Benar sekali pak Guru… selama ini kita hanya tahu permukaannya saja, akibatnya malah nilai2 kaliamah tauhid ini dan nilai2 islam menjadi kendur. Islam di indonesia mulai kehilangan ruhnya, mudah2an kita bisa saling mengingatkan untuk mengenalkan islam yang sebenarnya…. Ya Allah kami mohon petunjuk dariMU… Amin…

  • sufipejuang // Januari 4, 2008 pada 6:13 am | Balas

    Ini terkait dengan masalah pendidikan juga. Kata pepatah: “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” atau “Bapa ketam mau mengajar anaknya berjalan lurus”.

    Itulah krusialnya dan titik pentingnya guru pembimbing yang benar-benar bertaqwa. Guru yang menjiwai ilmu tauhid, tidak hanya di akal tetapi sudah ada dalam hati dan diamalkan dalam perbuatan. KAlau gurunya/pemimpinnya ketaqwaannya tak sampai kemana, apa yang mau diharapkan dari anak didiknya?

    Kita jarang memperhatikan masalah ruhaniah, dalam pendidikan yang selalu ditekankan adalah masalah fisik dan akal semata-mata.
    Akibat tiada didikan ruhani kerusakan yang ditimbulkan sebetulnya sangat luar biasa. Ya Allah, pimpinlah kami, datangkan kepada kami guru yang mampu mendidik ruhaniah kami.

    Sebenarnya guru ruhani itu banyak sekali… hanya saja kita tertutupi oleh dosa kita…Allah telah kasih kita akal yang kan mampu mengantarkan kita kepada hidayahNya… melalui kalamNya, melalui lisan kekasihNya, alam jagad dan segala kejadiannya sebenarnya juga merupakan guru rohani kita… tinggal bagaimana kita memaknainya…
    Sering-sering mampir mas muntadzir, masukan2 dari smpyn perlu untuk melengkapi tulisan2 yg masih jauh dari sempurna ini…

  • sufipejuang // Januari 14, 2008 pada 2:11 am | Balas

    Hm…kalau yang Bapak sebut itu, saya lebih suka menyebutnya sebagai iktibar dari Allah. Iktibar atau pengajaran dari Allah memang amat sangat banyak. Mata kita bisa melihatnya, akal kita bisa memikirkannya.

    Namun, kita perlu kepada guru mursyid untuk mendidik ruhani kita sebab mata kepala dan akal kita masih belum mampu melihat hal-hal yang bersifat ruhaniah/maknawiah.

    Sekedar sharing: http://sufipejuang.wordpress.com/2008/01/14/guru-mursyid-dan-kecelakaan-ruhani/

    Kalau kita pikirkan betapa setiap detik kita tidak lepas dari kecelakaan-kecelaan ruhani, tentu akal kita akan pecah memikirkannya :) Selanjutnya, kita akan mencari orang yang sanggup memandu kita dalam meniti jalan yang penuh jebakan nafsu dan setan ini :)

Tinggalkan sebuah Komentar