Hidup seKilas

Masukan dari Januari 2008

USG 3D di klinik fetomaternal Hermina

Januari 18, 2008 · & Komentar

Alhamdulilllah berkat kecanggihan teknologi, saya bisa mengintip wajah calon anakku, sayang hanya satu yang bisa diphoto, karena satunya lagi tengkurep :) . Sengaja saya pajang foto “alam rahim” ini , mudah-mudahan kelak begitu dia sudah besar*kalau Allah menghendakinya* bisa memahami akan ketidakberdayaannya, betapa dulu dia lemah, dan tak mampu apa-apa, hanya pasrah akan apa yang dia terima; agar tiada kesombongan bersarang di dadanya, agar sadar akan kebesaran Allahnya sehingga sifat rendah hati dan tawadlu’ menjadi selendang kehidupannya, menjadi sebenar-benar hamba Allah. Allahumma Amin…Mohon sambungan doanya yach.. saudaraku sekalian…. (Syukron, Thank you, terimakasih, matur nuwun, mator sakalangkong)

Kategori: Seputar Anak
Ditandai: , , , ,

Wajibkah Belajar dan Paham Bahasa Arab?

Januari 17, 2008 · & Komentar

Dalam sebuah kaidah ilmu fiqh disebutkan : “Ma laa yatimmul wajibu illa bihi fahuwal wajib” (Apa-apa yang tidak sempurna sesuatu yg wajib kecuali dengannya maka hukum dia adalah wajib)

Satu contoh kasus yang menerangkan kaidah di atas adalah WUDLU. Ashlinya hukum wudlu tidak disebutkan, akan tetapi karena sesuatu yg wajib (Sholat) menjadi tidak sah/sempurna kecuali dengan wudlu, maka wudlu pun hukumnya wajib. Kemudian bagaimana dengan Bahasa Arab??

Guru-guru ngaji saya banyak yg berpesan: cintailah bahasa arab, karena bahasa nabi dan bahasa Ahli surga adalah bahasa arab. Dulu belajar bahasa arab pun ya sekedar belajar, sekedar bisa ngomong arab dengan temen sekelas madrosah yg kebanyakan turunan arab. Setelah diselami makna lain dari pesan guru ngaji saya itu, baru saya sadari; bahasa kitab suci kita Al-Qur’an berbahasa Arab, lafal dalam sholat kita adalah bahasa arab, termasuk Ijab Qobul dalam akad nikah afdlolnya adalah bahasa Arab. Apa jadinya kalau kita membaca al-quran tapi tak tahu yang dibaca? apa artinya kita sholat tapi apa yang kita lafalkan tak kita pahami, atau terutama bagi yang “sok” kem-arab, istilah jawa, ijab qobul waktu akad nikah menggunakan bahasa arab tapi tak tahu yg dia omongkan; apakah itu yang namanya ijab qobul? sah tidak ijab qobul seperti itu?

Melalui tulisan ini saya ingin menggugah kesadaran akan pentingnya bahasa Arab. Undang-undang kehidupan beragama kita (Al-Quran) adalah berbahasa Arab. Seandainya yang kita baca dari ayat-ayat al-Quran kita ketahui dan pahami, tentu insyaAllah kita tidak akan tergelincir karena punya pegangan dan mengerti yang kita pegang. Ada sedikit metoda agar ibadah kita menjadi lebih nikmat, yaitu menjadikan bahasa arab sebagai bahasa pertama; maksudnya saat kita mengaji atau melafalkan lafal arab dalam sholat misalnya, tidaklah kita membaca arabnya dulu kemudian dalam pikiran menterjemahkannya ke bahasa yang dimengerti, kalau begini, bahasa arab butuh 2 langkah utk “dimengerti”.

Minimal yang perlu kita pahami adalah bacaan sholat dan dzikir-dzikir, dan mulai mencicil Al-quran kita. Sesuatu mudah diingat dan menjadi hafal “bit-takrir”-dengan mengulang-ulangnya. Kalau ada kesungguhan insyaAllah Allah akan mempermudah kita untuk memahami bahasa Al-Quran dalam rangka mendekatkan diri kepadanya.

Wallahul muwaffiq ilaa aqwamiththoriq.

Bacaan akad nikah bahasa Arab :

(قبلت نكاحها تزوئجها بالمهرالمذكؤر حالا , Qobiltu nikaahaHaa watazwiijaHaa bilmaHril-madzkuur haalan: aku terima nikah dan kawinnya [Dia Perempuan, yg namanya disebutkan oleh wali perempuan] dg mahar yang disebutkan [saat ijab wali harus menyebutkan terlebih dahulu apa maharnya, kl tidak kita harus menyebutkan apa maharnya. misal alat sholat : maka kata المذكؤر diganti dengan عدوات الصلات: 'adawaatishsholaH] tunai )

Untuk belajar bahasa Arab silahkan ikuti tautan berikut :
http://www.freewebs.com/arabindo/arabindoframe.htm

Kategori: Opini
Ditandai: , ,

Resep Membersihkan Hati

Januari 4, 2008 · & Komentar

Semalem habis dari ngaji bulanan di kotabumi tangerang, baru sampe rumah jam 1 malem… hujan… dingin…ngantuk…(sekali jalan 40km naek motor)

Tapi sungguh kubersyukur, selalu ada kebahagiaan sepulang dari sana, ada kelegaan dan kepuasan dalam dada. Di majelis tadi malam, rasanya tak berlebihan kalau kubilang di situlah riyadlun min riyadlil jannah (taman dari taman sorga), suatu majlis yg di dalamnya kita diajak untuk mengenal siapa Allah kita, bagaimanakah seharusnya kita bertuhan, seharusnya kita berislam, seharusnya kita meneladani Rosulullah, bagaimana menjalani hidup… juga disertai dzikir dan munajat bersama, duh syahdunya… Betapa bulu kuduk sering berdiri, betapa air mata sering menetes, betapa hati ini selalu tergetar… semua diingatkan akan Allah, akan dosa-dosa, akan orang tua, anak, istri, dan akan bangsa ini.

Lanjut Baca Klik di Sini

Kategori: Evaluasi Diri · Nasehat Sang Bapak
Ditandai: ,

Perbaharui Iman dengan “Laa ilaaha illallah”

Januari 2, 2008 · & Komentar

Rasulullah SAW bersabda:”Perbaharui iman kalian dengan laa ilaaha illallah…”Pertanyaan manakah yang benar, apakah : bagaimanakah laa ilaaha illallah mampu memperbarui iman kita? ataukah : laa ilaaha illallah yang bagaimanakah yang bisa memperbaharui iman kita. Yang pertama menjadi subjek, yang kedua, laa ilaaha illallah menjadi objek.

Kalimat tahlil (laa ilaaha illallah, red) sebagai subjek perlu pengetahuan spiritual yang sangat tinggi untuk mengungkapnya, yang paling pas bagi kita adalah bagaimana menjadikan kalimat tahlil ini sebagai media kita menuju peningkatan iman kita. Salah satu komponen dari tahlil yang perlu ditekankan di sini adalah di kata ilah, yg biasa diartikan “TUHAN”. Untuk menjabarkan kaliamat “Tiada Ilah/Tuhan selain Allah”, kita harus merujuk ke pengertian asal katanya, yaitu dalam bahasa Arab.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan definisi al ilah sebagai berikut: Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati; tunduk kepadanya, merendahkan diri di hadapannya, takut dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdo’a dan bertawakkal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya. (Dr. Yusuf Qardawi: “Tauhid dan Fenomena Kemusyrikan, (Haqiqat Al-Tauhid) terjemahan H. Abd. Rahim Haris, Pustaka Darul Hikmah, Bima, hal. 26 – 27).

Lanjut Baca Klik di Sini

Kategori: Nasehat Sang Bapak · Tauhid