<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Allahku, Bapak/Ibu Sejatiku</title>
	<atom:link href="http://kylas.wordpress.com/2007/12/27/allahku-bapakibu-sejatiku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kylas.wordpress.com/2007/12/27/allahku-bapakibu-sejatiku/</link>
	<description>Mencari Jati Diri, Berselaras Dengan Kodrat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Oct 2009 01:33:23 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: sufipejuang</title>
		<link>http://kylas.wordpress.com/2007/12/27/allahku-bapakibu-sejatiku/#comment-30</link>
		<dc:creator>sufipejuang</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 05:50:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kylas.wordpress.com/2007/12/27/allahku-bapakibu-sejatiku/#comment-30</guid>
		<description>Hadhratussyeikh Hasyim Asy&#039;ari tentu sedih melihat NU yang ditinggalkannya.

Saya melihat, NU bisa besar berkat ketaqwaan pendirinya, yaitu Hadhratussyeikh Hasyim Asy&#039;ari. Keberkatan itu mengalir ke murid-muridnya. 

NU pernah menjadi garda depan pembela paham Ahlussunnah wal Jamaah. Tapi sekarang :(

Faktor ketaqwaan pemimpin adalah yang utama. Tanpa pemimpin yang bertaqwa, rahmat dan bantuan Allah SWT tidak akan turun.

Visi dan misi tentu jelas: IMAN, TAQWA. Persoalannya adalah, tanpa pemimpin yang bertaqwa, bisakah???</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hadhratussyeikh Hasyim Asy&#8217;ari tentu sedih melihat NU yang ditinggalkannya.</p>
<p>Saya melihat, NU bisa besar berkat ketaqwaan pendirinya, yaitu Hadhratussyeikh Hasyim Asy&#8217;ari. Keberkatan itu mengalir ke murid-muridnya. </p>
<p>NU pernah menjadi garda depan pembela paham Ahlussunnah wal Jamaah. Tapi sekarang <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Faktor ketaqwaan pemimpin adalah yang utama. Tanpa pemimpin yang bertaqwa, rahmat dan bantuan Allah SWT tidak akan turun.</p>
<p>Visi dan misi tentu jelas: IMAN, TAQWA. Persoalannya adalah, tanpa pemimpin yang bertaqwa, bisakah???</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ansori</title>
		<link>http://kylas.wordpress.com/2007/12/27/allahku-bapakibu-sejatiku/#comment-28</link>
		<dc:creator>Ansori</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 04:13:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kylas.wordpress.com/2007/12/27/allahku-bapakibu-sejatiku/#comment-28</guid>
		<description>Wa&#039;alaikum salam Gus Ram, hehe.. OOT yah...
NU dari awal memang kurang mengutamakan pendidikan, beberapa tahun kemarin aja mulai melek. Selama ini NU mengandalkan jamiyahnya yang besar tapi proses kaderisasinya juga sekedar mengalir turun temurun tanpa target yang jelas. Kegiatannya pun tampak sebatas rutinitas saja... belum menyentuh esensi. Kalau jamaah NU sendiri ditanyain ttg NU, mereka tahu nggak? ataukah mereka hanya akan bilang: &quot;apa kata kyai...&quot; hanyalah sebuah taqlid buta??? sungguh akah jauh dari kebenaran.

Yang saya tahu, peran NU sejak jaman kemerdekaan dan penyebaran islam di indonesia sangat besar. Kalau mau NU kembali besar, anak mudanya harus jadi target utama, generasi tua sebagai sumber dan teladan, dengan kaderisasi yg terarah, sesuai visi dan misi, insyaAllah NU bisa kembali berjaya menjadi wadah umat ber-ahlussunnah wal jamaah, menjadi rahmatan lil-&#039;alamin, menuju kejayaan islam dan bangsa indonesia.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wa&#8217;alaikum salam Gus Ram, hehe.. OOT yah&#8230;<br />
NU dari awal memang kurang mengutamakan pendidikan, beberapa tahun kemarin aja mulai melek. Selama ini NU mengandalkan jamiyahnya yang besar tapi proses kaderisasinya juga sekedar mengalir turun temurun tanpa target yang jelas. Kegiatannya pun tampak sebatas rutinitas saja&#8230; belum menyentuh esensi. Kalau jamaah NU sendiri ditanyain ttg NU, mereka tahu nggak? ataukah mereka hanya akan bilang: &#8220;apa kata kyai&#8230;&#8221; hanyalah sebuah taqlid buta??? sungguh akah jauh dari kebenaran.</p>
<p>Yang saya tahu, peran NU sejak jaman kemerdekaan dan penyebaran islam di indonesia sangat besar. Kalau mau NU kembali besar, anak mudanya harus jadi target utama, generasi tua sebagai sumber dan teladan, dengan kaderisasi yg terarah, sesuai visi dan misi, insyaAllah NU bisa kembali berjaya menjadi wadah umat ber-ahlussunnah wal jamaah, menjadi rahmatan lil-&#8217;alamin, menuju kejayaan islam dan bangsa indonesia.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ram-Ram Muhammad</title>
		<link>http://kylas.wordpress.com/2007/12/27/allahku-bapakibu-sejatiku/#comment-25</link>
		<dc:creator>Ram-Ram Muhammad</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 05:41:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kylas.wordpress.com/2007/12/27/allahku-bapakibu-sejatiku/#comment-25</guid>
		<description>Assalaamu &#039;alaikum Cak Ri... Moga-moga sehat selalu ya.
Saya kok terus menerus merasakan kegamangan melihat perkembangan kiprah NU. Saya melihatnya seolah-olah NU lagi tidur kepulesan, kalaupun bangun ya cuma sekedar membetulkan posisi selimut... :mrgreen:

Terlebih di Bandung Cak Ri, sekarang ini NU tidak lebih dari sekedar papan nama identitas saja. Bapak saya kebetulan ketua al-Maarif Jawa Barat, dan bapak mertua Rais Syuriah NU. Makanya saya tahu betul bagaimana NU sekarang... 

Kiprah NU di bidang pendidikan misalnya, sepertinya seperempat hati (setengah hati masih lumayan). Lalu dalam pengembangan ekonomi masyarakat, begitu pula adanya. Lha, apa semua ini karena kita terlaludisibukkan dengan politik praktis? Sibuknya iya, tapi hasilnya Ndak juga (bagus)... Di Bandung, yang dulu basis NU, sekarang PKB cuman dapat 1 kursi di DPRD. Sedih... :cry:

Lho, kok malah curhat ya...? 

Salam buat semuanya ya Cak Ri...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalaamu &#8216;alaikum Cak Ri&#8230; Moga-moga sehat selalu ya.<br />
Saya kok terus menerus merasakan kegamangan melihat perkembangan kiprah NU. Saya melihatnya seolah-olah NU lagi tidur kepulesan, kalaupun bangun ya cuma sekedar membetulkan posisi selimut&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Terlebih di Bandung Cak Ri, sekarang ini NU tidak lebih dari sekedar papan nama identitas saja. Bapak saya kebetulan ketua al-Maarif Jawa Barat, dan bapak mertua Rais Syuriah NU. Makanya saya tahu betul bagaimana NU sekarang&#8230; </p>
<p>Kiprah NU di bidang pendidikan misalnya, sepertinya seperempat hati (setengah hati masih lumayan). Lalu dalam pengembangan ekonomi masyarakat, begitu pula adanya. Lha, apa semua ini karena kita terlaludisibukkan dengan politik praktis? Sibuknya iya, tapi hasilnya Ndak juga (bagus)&#8230; Di Bandung, yang dulu basis NU, sekarang PKB cuman dapat 1 kursi di DPRD. Sedih&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cry.gif' alt=':cry:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Lho, kok malah curhat ya&#8230;? </p>
<p>Salam buat semuanya ya Cak Ri&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
