Hidup seKilas

Allahku, Bapak/Ibu Sejatiku

Desember 27, 2007 · & Komentar

dari duka dan lukaku
dari suka dan citaku
kini kusadari
apa selama ini tersembunyi

Belaian kasih sayangmu demiku
sapaan manismu demiku
ancamanmu demiku
tamparanmu demiku

walau pernah kau kumaki
walau pernah kau kucampakkan
walau pernah kau tak kusapa
walau…walau diri ini tak mampu lagi melihat

tiada sedikitpun kau bergeming
tak luntur kasih sayangmu
tak pudar sapaan manismu
hingga diri ini terdiam dan hanya mampu terdiam

semua terasa setelah lama berselang
pahit getir yang dulu kujadikan makian bagimu
manis kini bersemi
terang jalan yang kutapaki

terimakasih…
terimakasih…
terimakasih…
sudilah kau hapus noda yang kini masih tersisa…

13 dzulhijjah 1428H 20:09

Kategori: Tauhid · my Inspiration
Ditandai: , ,

3 tanggapan so far ↓

  • Ram-Ram Muhammad // Desember 31, 2007 pada 5:41 am | Balas

    Assalaamu ‘alaikum Cak Ri… Moga-moga sehat selalu ya.
    Saya kok terus menerus merasakan kegamangan melihat perkembangan kiprah NU. Saya melihatnya seolah-olah NU lagi tidur kepulesan, kalaupun bangun ya cuma sekedar membetulkan posisi selimut… :mrgreen:

    Terlebih di Bandung Cak Ri, sekarang ini NU tidak lebih dari sekedar papan nama identitas saja. Bapak saya kebetulan ketua al-Maarif Jawa Barat, dan bapak mertua Rais Syuriah NU. Makanya saya tahu betul bagaimana NU sekarang…

    Kiprah NU di bidang pendidikan misalnya, sepertinya seperempat hati (setengah hati masih lumayan). Lalu dalam pengembangan ekonomi masyarakat, begitu pula adanya. Lha, apa semua ini karena kita terlaludisibukkan dengan politik praktis? Sibuknya iya, tapi hasilnya Ndak juga (bagus)… Di Bandung, yang dulu basis NU, sekarang PKB cuman dapat 1 kursi di DPRD. Sedih… :cry:

    Lho, kok malah curhat ya…?

    Salam buat semuanya ya Cak Ri…

  • Ansori // Januari 2, 2008 pada 4:13 am | Balas

    Wa’alaikum salam Gus Ram, hehe.. OOT yah…
    NU dari awal memang kurang mengutamakan pendidikan, beberapa tahun kemarin aja mulai melek. Selama ini NU mengandalkan jamiyahnya yang besar tapi proses kaderisasinya juga sekedar mengalir turun temurun tanpa target yang jelas. Kegiatannya pun tampak sebatas rutinitas saja… belum menyentuh esensi. Kalau jamaah NU sendiri ditanyain ttg NU, mereka tahu nggak? ataukah mereka hanya akan bilang: “apa kata kyai…” hanyalah sebuah taqlid buta??? sungguh akah jauh dari kebenaran.

    Yang saya tahu, peran NU sejak jaman kemerdekaan dan penyebaran islam di indonesia sangat besar. Kalau mau NU kembali besar, anak mudanya harus jadi target utama, generasi tua sebagai sumber dan teladan, dengan kaderisasi yg terarah, sesuai visi dan misi, insyaAllah NU bisa kembali berjaya menjadi wadah umat ber-ahlussunnah wal jamaah, menjadi rahmatan lil-’alamin, menuju kejayaan islam dan bangsa indonesia.

  • sufipejuang // Januari 2, 2008 pada 5:50 am | Balas

    Hadhratussyeikh Hasyim Asy’ari tentu sedih melihat NU yang ditinggalkannya.

    Saya melihat, NU bisa besar berkat ketaqwaan pendirinya, yaitu Hadhratussyeikh Hasyim Asy’ari. Keberkatan itu mengalir ke murid-muridnya.

    NU pernah menjadi garda depan pembela paham Ahlussunnah wal Jamaah. Tapi sekarang :(

    Faktor ketaqwaan pemimpin adalah yang utama. Tanpa pemimpin yang bertaqwa, rahmat dan bantuan Allah SWT tidak akan turun.

    Visi dan misi tentu jelas: IMAN, TAQWA. Persoalannya adalah, tanpa pemimpin yang bertaqwa, bisakah???

Tinggalkan sebuah Komentar