Seorang murid menghadap Sang Bapak Guru selesai pengajian, ku duduk bersamanya. Hatinya berdebar saat ia mencoba beranikan diri untuk menanyakan salah satu masalahnya. Marah, putus asa, frustasi, selalu berkecamuk dalam hatinya saat ia teringat akan masalah itu.
Sang Bapak adalah seorang kyai Besar dengan banyak jamaah, semua jamaahnya memanggil “Bapak” termasuk aku dan dia, tentu saja sangat sulit untuk ngobrol empat mata dengannya. Kecamuk semakin berderu, ia menunggu saat yang tepat untuk menyela, tapi selalu saja ada orang yang mendahului untuk ngobrol dengan Bapak sekalipun hanya untuk pamit pulang. Keberaniannya sempat kendor dan hampir mengurungkan niatnya. Namun akhirnya, setelah lama menunggu, saat tamu mulai berguguran, ketika ia merasa itu adalah saat yg tepat, ia langsung menyela, menghadap dengan wajah lesu tertunduk tak bergairah. “Pak…”, ia memulai obrolan denga suara terpatah-patah. “Pak… saya mau tanya..”, Bapak tampak tidak terlalu menghiraukan, Bapak juga sedang ngobrol dengan para pembina di sebelahnya. Ia meneruskan pertanyaannya : “Pak…, saya…., nafsu syahwat saya sangat besar, saya tidak mampu mengendalikannya Pak…”.
Dalam benak sang murid itu terlintas semua perbuatan-perbuatan yang tak senonoh dengan pacarnya sekarang, dia diam. Sang Bapak tampak masih konsen dengan pembina-pembina pengajian dari luar kota dan luar pulau.
Aku mencoba menjuauhkan diri dari posisi dudukku semula dan bersandar di dinding. Aku ingin memberi sedikit keleluasaan baginya untuk berbicara di hadapan Bapak, namun semua percakapan masih bisa kudengar. Setelah agak lama terdiam, dia kembali bersuara, dengan suara lirih dan lesu, “Pak…. Saya berzina….”. Begitu mendengar kalimat sang murid, Bapak terlihat lebih perhatian padanya, menghadapkan badannya pada sang murid, tapi juga diam. Sang murid melanjutkan, “Saya sudah berusaha tidak melakukan dan mengulangnya pak…, tapi tak berhasil…, saya kalah….”. Seorang pembina menyela pembicaraan pamit pulang, sang murid diam dan tertunduk. Begitu pembina meninggalkan tempat, Bapak dan murid masih diam. Bapak tampak mengernyutkan dahi seakan tahu apa yang telah dilakukan oleh murid tersebut.”Pak… gimana caranya agar saya tidak berzina lagi???” Sang murid kembali bertanya. Satu kalimat nasehat yg spontan dan lepas, keluar dari Bapak : “JAGA WUDLU..!!”, kemudian kembali Bapak sibuk ngobrol dengan para pembina yang berada di samping-sampingnya. Entah apa yang terjadi, sang murid kemudian pamit.
Dalam duduk bersandarku aku termenung dg nasehat Bapak tadi, simple, lugas, dan mengena. Tak pernah terpikirkan olehku metode itu, karena aku juga sedang terburu oleh nafsuku. Sesuatu yang…, yah… tampaknya remeh, kalau ditelaah lebih dalam merupakan metode yg sangat jitu dalam rangka mencaegah diri dari perbuatan zina. Walaupun akan sangat berat untuk membiasakannya. Mudah-mudahan bermanfaat…!!!

2 tanggapan so far ↓
bayu // Januari 3, 2008 pada 4:58 am
hmmm…
masih belon ngerti, maklum rada OON
“JANGAN WUDLU” = jangan zina ?
bingung ….
putut // Oktober 6, 2008 pada 10:27 am
suwun pak nasehatnya semoga bisa saya amalkan, dan menjadi amal untuk yang menjalankannya, sebagai tambahan rosul pernah memberikan tips untuk hal ini, jika tak mampu kita menahan sesuatu maka, PUASA adalah hal yang baik untuk anda..