Hidup seKilas

Asma ul Husna

September 16, 2008 · 2 Komentar

Asmaaulhusna

No. Nama Arab Indonesia Inggris
1 Allah الله The God
2 Ar Rahman الرحمن Yang Memiliki Mutlak sifat Pengasih The All Beneficent
3 Ar Rahiim الرحيم Yang Memiliki Mutlak sifat Penyayang The Most Merciful
4 Al Malik الملك Yang Memiliki Mutlak sifat Merajai/Memerintah The King, The Sovereign
5 Al Quddus القدوس Yang Memiliki Mutlak sifat Suci The Most Holy
6 As Salaam السلام Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Kesejahteraan Peace and Blessing
7 Al Mu`min المؤمن Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Keamanan The Guarantor
8 Al Muhaimin المهيمن Yang Memiliki Mutlak sifat Pemelihara The Guardian, the Preserver
9 Al `Aziiz العزيز Yang Memiliki Mutlak Kegagahan The Almighty, the Self Sufficient
10 Al Jabbar الجبار Yang Memiliki Mutlak sifat Perkasa The Powerful, the Irresistible
11 Al Mutakabbir المتكبر Yang Memiliki Mutlak sifat Megah, Yang Memiliki Kebesaran The Tremendous
12 Al Khaliq الخالق Yang Memiliki Mutlak sifat Pencipta The Creator
13 Al Baari` البارئ Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan) The Maker
14 Al Mushawwir المصور Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Membentuk Rupa (makhluknya) The Fashioner of Forms
15 Al Ghaffaar الغفار Yang Memiliki Mutlak sifat Pengampun The Ever Forgiving
16 Al Qahhaar القهار Yang Memiliki Mutlak sifat Memaksa The All Compelling Subduer
17 Al Wahhaab الوهاب Yang Memiliki Mutlak sifat Pemberi Karunia The Bestower
18 Ar Razzaaq الرزاق Yang Memiliki Mutlak sifat Pemberi Rejeki The Ever Providing
19 Al Fattaah الفتاح Yang Memiliki Mutlak sifat Pembuka Rahmat The Opener, the Victory Giver
20 Al `Aliim العليم Yang Memiliki Mutlak sifat Mengetahui (Memiliki Ilmu) The All Knowing, the Omniscient
21 Al Qaabidh القابض Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menyempitkan (makhluknya) The Restrainer, the Straightener
22 Al Baasith الباسط Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Melapangkan (makhluknya) The Expander, the Munificent
23 Al Khaafidh الخافض Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Merendahkan (makhluknya) The Abaser
24 Ar Raafi` الرافع Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Meninggikan (makhluknya) The Exalter
25 Al Mu`izz المعز Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Memuliakan (makhluknya) The Giver of Honor
26 Al Mudzil المذل Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menghinakan (makhluknya) The Giver of Dishonor
27 Al Samii` السميع Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mendengar The All Hearing
28 Al Bashiir البصير Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Melihat The All Seeing
29 Al Hakam الحكم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menetapkan The Judge, the Arbitrator
30 Al `Adl العدل Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Adil The Utterly Just
31 Al Lathiif اللطيف Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Lembut The Subtly Kind
32 Al Khabiir الخبير Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengetahui Rahasia The All Aware
33 Al Haliim الحليم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyantun The Forbearing, the Indulgent
34 Al `Azhiim العظيم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Agung The Magnificent, the Infinite
35 Al Ghafuur الغفور Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pengampun The All Forgiving
36 As Syakuur الشكور Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pembalas Budi (Menghargai) The Grateful
37 Al `Aliy العلى Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tinggi The Sublimely Exalted
38 Al Kabiir الكبير Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Besar The Great
39 Al Hafizh الحفيظ Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menjaga The Preserver
40 Al Muqiit المقيت Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemberi Kecukupan The Nourisher
41 Al Hasiib الحسيب Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Membuat Perhitungan The Reckoner
42 Al Jaliil الجليل Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia The Majestic
43 Al Kariim الكريم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemurah The Bountiful, the Generous
44 Ar Raqiib الرقيب Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengawasi The Watchful
45 Al Mujiib المجيب Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengabulkan The Responsive, the Answerer
46 Al Waasi` الواسع Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Luas The Vast, the All Encompassing
47 Al Hakiim الحكيم Yang Memiliki Mutlak sifat Maka Bijaksana The Wise
48 Al Waduud الودود Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pencinta The Loving, the Kind One
49 Al Majiid المجيد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia The All Glorious
50 Al Baa`its الباعث Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Membangkitkan The Raiser of the Dead
51 As Syahiid الشهيد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menyaksikan The Witness
52 Al Haqq الحق Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Benar The Truth, the Real
53 Al Wakiil الوكيل Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memelihara The Trustee, the Dependable
54 Al Qawiyyu القوى Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kuat The Strong
55 Al Matiin المتين Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kokoh The Firm, the Steadfast
56 Al Waliyy الولى Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Melindungi The Protecting Friend, Patron, and Helper
57 Al Hamiid الحميد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Terpuji The All Praiseworthy
58 Al Mushii المحصى Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengkalkulasi The Accounter, the Numberer of All
59 Al Mubdi` المبدئ Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memulai The Producer, Originator, and Initiator of all
60 Al Mu`iid المعيد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengembalikan Kehidupan The Reinstater Who Brings Back All
61 Al Muhyii المحيى Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menghidupkan The Giver of Life
62 Al Mumiitu المميت Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mematikan The Bringer of Death, the Destroyer
63 Al Hayyu الحي Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Hidup The Ever Living
64 Al Qayyuum القيوم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mandiri The Self Subsisting Sustainer of All
65 Al Waajid الواجد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penemu The Perceiver, the Finder, the Unfailing
66 Al Maajid الماجد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia The Illustrious, the Magnificent
67 Al Wahiid الواحد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Esa The One, the All Inclusive, the Indivisible
68 As Shamad الصمد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta The Self Sufficient, the Impregnable, the Eternally Besought of All, the Everlasting
69 Al Qaadir القادر Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan The All Able
70 Al Muqtadir المقتدر Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Berkuasa The All Determiner, the Dominant
71 Al Muqaddim المقدم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mendahulukan The Expediter, He who brings forward
72 Al Mu`akkhir المؤخر Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengakhirkan The Delayer, He who puts far away
73 Al Awwal الأول Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Awal The First
74 Al Aakhir الأخر Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Akhir The Last
75 Az Zhaahir الظاهر Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Nyata The Manifest; the All Victorious
76 Al Baathin الباطن Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Ghaib The Hidden; the All Encompassing
77 Al Waali الوالي Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memerintah The Patron
78 Al Muta`aalii المتعالي Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tinggi The Self Exalted
79 Al Barri البر Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penderma The Most Kind and Righteous
80 At Tawwaab التواب Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penerima Tobat The Ever Returning, Ever Relenting
81 Al Muntaqim المنتقم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyiksa The Avenger
82 Al Afuww العفو Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemaaf The Pardoner, the Effacer of Sins
83 Ar Ra`uuf الرؤوف Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pengasih The Compassionate, the All Pitying
84 Malikul Mulk مالك الملك Yang Memiliki Mutlak sifat Penguasa Kerajaan (Semesta) The Owner of All Sovereignty
85 Dzul Jalaali Wal Ikraam ذو الجلال و الإكرام Yang Memiliki Mutlak sifat Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan The Lord of Majesty and Generosity
86 Al Muqsith المقسط Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Adil The Equitable, the Requiter
87 Al Jamii` الجامع Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengumpulkan The Gatherer, the Unifier
88 Al Ghaniyy الغنى Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Berkecukupan The All Rich, the Independent
89 Al Mughnii المغنى Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Kekayaan The Enricher, the Emancipator
90 Al Maani المانع Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mencegah The Withholder, the Shielder, the Defender
91 Ad Dhaar الضار Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Derita The Distressor, the Harmer
92 An Nafii` النافع Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Manfaat The Propitious, the Benefactor
93 An Nuur النور Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya) The Light
94 Al Haadii الهادئ Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemberi Petunjuk The Guide
95 Al Baadii البديع Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pencipta Incomparable, the Originator
96 Al Baaqii الباقي Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kekal The Ever Enduring and Immutable
97 Al Waarits الوارث Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pewaris The Heir, the Inheritor of All
98 Ar Rasyiid الرشيد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pandai The Guide, Infallible Teacher, and Knower
99 As Shabuur الصبور Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Sabar The Patient, the Timeless

→ 2 CommentsKategori: Opini
Tagged: , , ,

Syafaat dan Tanggungjawab Sosial

Agustus 21, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Mendengar kata Syafaat, mungkin kita akan langsung ingat kepada Rosulullah SAW, yang katanya kelak dapat memberikan syafaat kepada umatnya sehingga diselamatkan dari siksa neraka. Sebegitu simpelnya kah?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Depdiknas, Syafaat berarti :

sya·fa·at n perantaraan (pertolongan) untuk menyampaikan permohonan (kpd Allah): segala permintaannya telah dikabulkan oleh Allah Subhanahu wataala dng — Nabi Muhammad saw.

Dalam bahasa asalnya, bahasa Arab, Syafaat berasal dari kata Syafa’a (شفع)  berarti menggabungkan sesuatu dengan sesuatu lain yang sejenisnya agar menjadi sepasang. Dalam konteks muamalah/ibadah, dapatlah kita artikan sebagai segala perbuatan yang menyebabkan adanya hasil atau akibat, baik berupa perbuatan atau ekses lain.

Dalam QS Annisa ayat 85 disebutkan;

[4:85] Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

berangkat dari pengertian dan ayat di atas, tampaklah bahwa yg namanya syafaat adalah gabungan 2 hal yg berselaras; yang memberikan syafaat dan yang menerima syafaat. Dan kita diarahkan kepada 2 hal yaitu :

1. Anjuran memberikan syafaat yg baik

Ketika kita memberikan nasehat menuju kebaikan dan ketaatan, maka berarti kita telah memberikan syafaat yang baik. Orang akan tergerak untuk juga berbuat kebaikan dan kita akan mendapat balasan atas kebaikan yang terjadi. begitu juga ketika kita selalu membertikan teladan dan contoh yang baik di lingkungan, sehingga orang pun meniru kebaikan itu maka kita telah memberikan syafaat yg baik. Akibatnya lingkungan kita menjadi lingkungan yg baik, yang beradab, bersih, indah; itulah syafaat yg nyata yang dapat kita rasakan di dunia.

2. Larangan memberikan syafaat yang buruk

Ketika kita mengajak orang kepada keburukan, kemaksiatan atau menjadi peyebab terjerumusnya seseorang menuju keburukan maka kita telah memberikan syafaat yg buruk. Sesungguhnya kita akan memperoleh bagian, mendapat imbas dari keburukan yg terjadi, lantaran diri kita sendiri. Bagi kaum muslim hendaknya menutup aurat dengan sempurna, lebih2 kau hawa, kalau kita bersengaja tidak menutup aurat dan ternyata membuat orang yg melihatnya jatuh kedalam kemaksiatan, siap-siaplah kelak kita terperanjat oleh banyaknya dosa yang tak kita sadari. Setiap diri punya tanggung jawab sosial, bagaimana menjadikan masyarakat aman dengan berlandaskan nilai-nilai agama, karena nilai-nilai agama Islam adalah menyelamatkan umatnya.

Syafaat Nabi Muhammad SAW

Dalam berbagai hadits dan ayat al-quran disebutkan bahwa nabi kita Muhammad SAW kelak mampu memberikan syafaat kepada umatnya dengan izin Allah demi keselamatan umat Muhammad. Apakah yang dinamakan syafaat nabi itu? yaitu ketika kita mengamalkan ajaran yg disampaikan Nabi, meneladani akhlaqnya, mencintai apa yg dicintai beliau dan takmenyukai apa yang beliau tak sukai.

(bersambung)

→ Leave a CommentKategori: Evaluasi Diri · Opini
Tagged: , ,

Melahirkan MUHAMMAD Dalam Diri

Juli 18, 2008 · 6 Komentar

siapakah yang mengaku umat Muhammad?
siapakah yang berharap berada di bawah panji Muhammad kelak di Padang Mahsyar?
siapakah yang mengaku cinta kepada Muhammad?
sudahkah kau lahirkan Muhammad dalam diri kalian?
sudahkah kau lahirkan sabarnya Muhammad, sopan santunnya Muhammad
ketaqwaan Muhammad, kasih sayangnya Muhammad
kalau belum, janganlah kau mengaku2 umat Muhammad.
Muhammad bukanlah utk sekedar kau agung2kan
Muhammad bukan sekedar untuk kau sebut2 namanya
tapi peneladanan sifat2 Muhammad yg lebih diperlukan
kemudian kau lahirkan dalam keseharian kalian
kepada anak, istri, orang tua, mertua, tetangga, orang sakit, yang tertimpa musibah
apa yang Muhammad sampaikan kau patuhi dan kau kerjakan
cinta itu bukanlah sekedar di bibir, tapi butuh langkah nyata
keimanan bukan sekedar dikata-kata, tapi berbuah dalam perbuatan
ketaqwaan bukan sekedar dirasa, tapi mewarnai tingkah pola

sudahkan kau kenal Muhammad yg akan kau lahirkan sifatnya melalui diri kalian?
kalau belum,, bersegeralah…
bersamaan itu, kenalilah siapa Tuhan Muhammad
setelah itu bersiaplah menuju kedamaian

(jumat, 15 rajab 1429H, 20.15) MK Lt.5

→ 6 CommentsKategori: Evaluasi Diri · puisi
Tagged: , ,

Hukum Sebab Akibat dan Takdir Allah

Juli 18, 2008 · 2 Komentar

Tulisan ini diilhami pertanyaan temen satu kantor, apakah takdir itu dan bagaimanakah sikap kita terhadap takdir ini. Mungkin kita semua tahu bahwa takdir adalah ketentuan/ketetapan Allah atas kejadian apapun yang menimpa makhluknya, termasuk manusia dan kita harus mengimaninya. Keberhasilan kita adalah ketetapan Allah, begitu pun kegagalan kita juga adalah ketetapan Allah. Dalam keterangan yang lain disebutkan bahwa semua yang terjadi di dunia ini, alam utk skala lebih besar, sudah tertulis di lauh mahfudz, katanya, semenjak dunia/alam diciptakan. Dalam nash yang lain disebutkan pena2 sudah diangkat dan tinta2 sudah kering. Hal ini menunjukkan bahwa ketetapan itu tak dapat dirubah.

Bagaimanakah kita menyikapi keterangan ini, percuma kita bersusah payah, rajin belajar, bekerja keras, toh semua sudah di atur. *sebelumnya mari kita senyum dulu…, tarik nafas…, jernihkan pikiran* :D

sebagai Muslim kita wajib percaya terhadap semua keterangan yang diberikan Allah, baik melalui Alquran, hadits qudsi, maupun hadits nabi. Pena2 sudah diangkat, benar….tinta sudah kering, benar…. hanya saja kita harus cermat dan sadar diri kalau kemampuan kita terbatas. kita seringkali hanya bisa melihat hasilnya saja dan kurang mampu melihat prosesnya. kita hanya tahu dia sukses, dia gagal, dia kecelakaan dll. Ada satu kata kunci yang perlu kita lihat juga, yaitu hukum sebab akibat. Hukum sebab akibat adalah sunnatullah, ketetapan Allah juga. Dalam alquran diterangkan: segala sesuatu ada sebab dan segala sesuatu akan mengikuti sebab itu. dari sini perlu ada pertanyaan : mengapa dia sukses, mengapa dia gagal, mengapa dia kecelakaan dll.

Apakah hukum sebab akibat bertolak belakang dengan keterangan ttg pena2 yg sudah kering? jawabannya adalah TIDAK. Justru di sinilah-kalau kita mau cermat-betapa Maha Kuasanya Allah, Maha LATHIF nya Allah, Maha Tahu-nya Allah, Maha segala-galanya Allah. ketetapan Allah itu sedemikian detail dan sangat logis bagi manusia.
Subhanallah…sungguh diri ini kecil Ya Allah,
maafkan kebodohan kami hingga kami sering salah sangka padaMu Ya Allah
sering berbuat sombong di muka bumi ini
kami sombong hingga tidak menghiraukanMu
kami sombong hingga berani melanggar laranganMu…tak peduli kepada saudara seiman, bahkan saling membunuh.
Berikan kami hidayahMu Ya Allah…
Islam agama yg kau ridloi adalah agama yg paling logis dan agama yg cinta damai

→ 2 CommentsKategori: Evaluasi Diri · Tauhid
Tagged: , , ,

Hidup dalam Pilihan

Juni 17, 2008 · 2 Komentar

Kita dilahirkan ke dunia tak tau apa-apa, selain insting menangis dan menyusu. Karena kebesaran dan kasih sayang Allah lah, segala penopang kesempurnaan hidup kita kemudian Allah berikan kepada kita. Allah beri penglihatan, Allah beri pendengaran dan indera yang lain, Allah beri akal, Allah beri hati (sirr) dan masih banyak yang lain. Menginjak dewasa saat semua semakin matang, kita sudah bisa membedakan mana baik dan buruk, yang penting dan tak penting, serta hal-hal lain demi kelangsungan kehidupan kita. Di situlah “Challenge” kehidupan manusia. Setiap manusia menempuh pilihan, menjadi baik atau burukkah, menjadi bahagia atau susahkah, menjadi semakin dekat ataukah semakin jauhkah dari Allah.

Dalam surat Asy-Syams ayat 8 dan 9 dijelaskan : 

 
[91:8] maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
 
 
[91:9] sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
 
 
[91:10] dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Begitulah, pilihan bagi manusia adalah apakah ia akan menjadi orang yg menyucikan jiwanya sehingga dekat kepada Allah, atau malah mengotori jiwanya hingga jauh dari ridlo Allah. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman : siapa yg mendekat kepadaku sejengkal maka Aku mendekat sehasta, jika ia mendekat sehasta maka Aku mendekat sejengkal dst…

Hadits qudsi, diatas mengisyaratkan adanya keselarasan usaha kita mendekat kepada Allah dengan welcome-nya Allah yang selalau Menyayangi, Mengasihi, dan selalu memberi yang terbaik bagi manusia itu sendiri. 

Dalam hadits yang lain diterangkan bahwa Akal itu menunjukkan kepada hidayah. yaitu akal yang selalu dalam proses tafakkur, terhadap diri, kejadian dan seluruh ciptaanNya. Sehingga sadar dan merasakan akan kebesaran Tuhan dan mengakui akan betapa kecil diri ini. Maka iman semakin mantap, ketakwaan akhirnya berseri, derajat ihsan akan dicapai. Akhirnya tujuan Allah menciptakan manusia menjadi kholifah/kepanjangan tangan Tuhan di muka bumi terlaksana sudah.

Keputusan terakhirakan datangnya Hidayah adalah di Tangan Tuhan, Tuhan telah memberikan jalannya, tinggal bagaimana kita, mengikuti jalan Tuhan ataukah mennjauh dari Jalan Tuhan. Masing2 ada konsekuensi dan saya rasa kita semua tahu akan konsekuensi itu, Bagaimana? 

→ 2 CommentsKategori: Evaluasi Diri · Opini
Tagged: , , ,

Qonaah

Juni 10, 2008 · 6 Komentar

Secara maknawi, qonaah berarti menerima apa adanya. Merasa ikhlas dengan kondisi apapun yang dialami. Dalam bahasa jawanya : “nrimo ing pandum”

Dalam sudut pandang tertentu, qonaah sering disalah artikan sehingga menjadi pemicu sebuah kemunduran, ganjalan dalam berkembangnya seseorang ke tingkatan yang lebih tinggi/baik dalam berbagai aspek kehidupan.

Memang tak salah kalau qonaah diartikan menerima apa adanya, tapi tidak berhenti hanya sampai disitu. Sikapa qonaah menuntut siapa saja untuk selalu bermuhasabah, introspeksi, seberapakah kemampuan dirinya, sehingga ia hidup secara WAJAR dan tak melampaui batas. Selanjutnya diperlukan adanya syukur, tasyakkur dan tafakkur. Syukur sebagai perwujudan menerima apa adanya, tasyakkur tercermin dari kelapangan hati dan kesabaran, tafakkur sebagai wujud evaluasi.

contoh kecil orang yang sedang usaha berjualan. suatu saat jualannya sepi. ketika ia menghadapi itu, pertama ia ikhlas, kemudian bersyukur, “Alhamdulillah…. dengan kesempitan ini Ya Allah kau ingatkan aku, kau jadikan aku mendekat kepadaMu”. Orang ini akan semakin memacu ibadahnya, sehingga semakin dekatlah ia kepada Allah, dengan ijin Allah tentunya. dengan semakin dekat kepada Allah maka semakin lapang hatinya menjalani kesempitan ini, yang ada adalah kelurusan berfikir. Langkah selanjutnya adalah tafakkur, evaluasi. Kenapa sih orang2 seakan menjauh dari tokoku, apakah karena tokoku kotor sehingga tak menarik keinginan pembeli, apakah harga jualku terlalu mahal, apakah pelayananku yg tidak disukai pembeli… evaluasi demi evaluasi dilakukan sehingga dari situ lahirlah perbaikan-perbaikan. 2 manfaat sekaligus, ibadah semakin lancar, urusan dunia semakin lancar.

Wallahu a’lam bishshowab.

→ 6 CommentsKategori: Evaluasi Diri · Nasehat Sang Bapak · Opini
Tagged: , , ,

Mengenal Asma Allah Yaa Lathif, Melalui Kisah Nabi Yusuf

Mei 19, 2008 · 6 Komentar

Tulisan ini dikhususkan kepada saudara2 yang merasa doanya tak pernah dikabulkan.

Terlepas dari bagaimana ia berdoa, baik dari sisi tatacara, adab, waktu yg dipilih dan sebagainya, mari kita lihat perspektif lain.

Di Awal Q.S Yusuf, nabi Yusuf menceritakan mimpinya kepada sang ayah tentang 11 bintang yg bersujud padanya (Nabi Yusuf), yang lantas Ayah menyuruhnya menyembunyikan mimpi itu dari saudaranya yg lain. Dalam keluarga Nabi Yusuf, dialah yg paling dicintai oleh ayahnya, sehingga timbul rasa isi di hati saudaranya yg lain. Timbullah niat jahat utk membunuh Yusuf, berpura2 mengajak Yusuf bermain, untuk kemudian dibunuh. Akan tetapi saudaranya yg lain keberatan kalau Yusuf dibunuh, akhirnya Nabi Yusuf di masukkan ke dalam sumur, kemudian mereka pulang pura2 menangis sambil membawa baju Nabi Yusuf yg penuh dilumuri darah (palsu).

selanjutnya, nabi Yusuf ditemukan seorang saudagar, diangkat dan mereka bawa kemudian dijual, dibelilah oleh pembesar kerajaan Mesir. Begitulah hingga dewasa dan Allah memberikan hikmah kepada Nabi Yusuf muda dan mengajarkan ttg ta’bir mimpi. Kejadian demi kejadian dialami dalam menjalani kehidupan di keluarga pembesar, mulai dari godaan istri pejabat yang akhirnya tersebar, isu miring terhadap keluarga pembesar hingga yusuf pun dimasukkan ke penjara untuk melindungi kehormatan keluarga  pembesar itu. Dalam penjara, Nabi Yusuf bersama 2 orang dan mereka menceritakan masalah mimpi2nya, dengan ilmu dari Allah mimpi2 itu bisa ia tafsirkan dan benar adanya. Waktu pun bergulir hingga kedua orang itu bebas dari penjara, sedang Nabi Yusuf masih mendekam di dalam. 

Selang beberapa lama, suatu saat Raja Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir [gandum] yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Raja resah dengan mimpinya itu akan tetapi tak satu orangpun yg mampu menafsirkannya. Untunglah diantara 2 orang yg pernah dipenjara bersama Yusuf ingat akan kemampuan nabi Yusuf dalm menafsirkan mimpi dan mendatanginya, maka dijelaskannya tafsir mimpi raja tsb. Karena sebab itulah akhirnya raja memanggil Yusuf dan membebaskannya serta menjadikannya orang dekat raja. namun sebelumnya Nabi Yusuf telah meminta klarifikasi atas keadaan wanita2 yang menggodanya dulu yg menyebabkannya masuk penjara. setelah wanita itu(istri pembesar,Zulaikha) mengakui di hadapan raja, bersihlah nama Nabi Yusuf. Nabi  Yusuf menawarkan diri utk menjadi bendaharawan negara Mesir dan diiyakan sang raja. Mengatur stok pangan selama 7 tahun masa surplus sesuai pertanda mimpi raja untuk persiapan 7 tahun masa paceklik. Ketika datang masa paceklik, kerajaan membagi2kan stok pangan kepada rakyatnya sesuai dengan pengaturan nabi Yusuf.

Suatu masa saat masih paceklik, datanglah saudara Nabi Yusuf ke kerajaan untuk mengambil bahan pangan. Mereka telah lupa dengan Nabi Yusuf karena menyangkanya telah meninggal, sedang Nabi Yusuf tidak. Tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang se ayah dengan kamu [Bunyamin], tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?  Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi daripadaku dan jangan kamu mendekatiku”.Mereka berkata: “Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya [ke mari] dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya”.

Begitulah akhirnya mereka bisa membujuk ayahnya (Nabi Ya’kub) agar mengijinkan membawa saudara lain ibu (Benyamin) ke kerajaan (Yusuf,red). Dengan sedikit trik, Benyamin ditahan di kerajaan sebagai jaminan sedang saudara yg lain kembali mengadukan kepada ayahnya. Lalu mereka disuruh keluar mencari berita tentang Yusuf dan saudaranya. Kembalilah mereka ke kerajaan mesir dan terungkaplah identitas Yusuf, ditengah mereka memohon utk diberikan sedekan berupa bahan pangan kepada Yusuf. Dalam kekagetan mereka, Yusuf menyuruh mereka kambali kepada ayahnya dengan membawakan baju gamis Yusuf memintanya memberikan pada ayahnya dan meletakkannya di wajahnya maka ayahnya akan kembali bisa melihat . Sesampai di rumah, ayahnya langsung mencium bau yusuf, baju itu pun diberikan dan diletakkan di wajah ayahnya maka ia langsung bisa melihat. Akhirnya semua keluarga menuju ke kerajaan Mesir dan sesampai di kerajaan sang ayah dan ibu dinaikkan ke atas singgasana, Seketikaitu juga kesebelas saudara Yusuf yg lain merabahkan diri seraya bersujud. Kemudian Yusuf berkata kepada ayahnya: ”Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. dan di akhir kata (QS. Yusuf ayah 100) yusuf menerangkan : sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut (LATHIF) terhadap apa yg dikehendakinya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha bijaksana.

Dari cerita di atas, mari kita cermati berapa lamakah Allah mewujudkan mimpi Nabi Yusuf, yang dalam hal ini merupkan analogi doa kita. Proses untuk mewujudkan/memenuhinya sering tidak kita sadari atau bahkan kita sudah malah lupa dengan doa yg pernah kita minta dan karena Memang Allah Maha Sutradara. Allah Maha mengetahui terhadap doa dan gerakan hati kita, Allah Maha mengetahui hal apakah yg terbaik dan paling pas terhadap kondisi kita, kondisi kebutuhan, kondisi keimanan kita; dan itulah yg Allah berikan kepada kita, karena Allah maha Bijaksana. Dan di situlah LATHIF(maha lembut)nya Allah. Orang2 yg tak mau bersabar sering terjerumus kepada prasangka buruk kepada Allah hingga semakin jauhlah ia dari Rahmat Allah.

Mari kita selalu bersabar terhadap ketentuan Allah, karen itulah yg terbaik dan paling pas terhadap kondisi kita; dan selalu berprasangkat baik kepada Allah, niscaya Rahmat dan pertolongan Allah akan selalu menyertai kehidupan kita. insyaAllah…

Wallahu a’lam boshshowab.

→ 6 CommentsKategori: Opini

Surat buat Si Kembar

April 17, 2008 · 9 Komentar

Alhamdulillah si kembar sudah lahir 31 Maret 2008 kemarin melalui operasi sesar. Selamat datang 2 Bidadari kecilku, kehadiranmu tlah lama kami tunggu, menjadi pelita di tengah harap ayah dan ibumu. Menjadi lebih lengkap kebahagiaan ini… Ya Allah syukron laka ‘ala kulli Fadllika ‘alaina.

Kuberi kalian nama Farah Aulia Zahrah dan Sarah Aulia Zahrah. Farah artinya Senang/bahagia; Sarah kami ambilkan dari nama istri nabi Ibrahim. Aulia merupakan kata jamak(bentuk banyak) dari Wali yang berarti kekasih/wakil; kami maksudkan di sini adalah kekasih-kekasih Allah. Zahrah kami ambilkan dari nama putri Nabimu Muhammad SAW, Siti fatimatuzzahrah merupakan titisan nur Allahmu yang dititipkan melalui sulbi Muhammad, Nabimu Muhammad sering menciumnya karena bau surga yang tercium. Julukannya pun adalah Ummu Abiha (ibunya Bapaknya), sebuah ungkapan betapa siti Fatimatuzzahrah betul2 memulyakan ayahnya (Muhammad SAW). Kami berharap engkau pun meneladaninya terhadap ayah dan ibumu kelak kalian dewasa. Sejak dalam kandungan, ayah ibumu selalu berdoa, selepas sholat, selepas membaca Firman Tuhanmu agar kalian menjadi ahlul quran : Pandai dan rutin kalian melantunkannya, akhlaq kalian pun gambaran darinya, dan kami pun berkeinginan semoga Allah menganugerahkan Alquran berada dalam hati dan ingatan kalian. Begitu juga, ayah ibumu memintakan ampun terhadap dosa-dosa kalian walau kalian belum lahir ke alam dunia ini, mudah-mudahan dengan doa itu Allah menjaga kalian dari dosa. InsyaAllah dengan ijinNya Allah pasti akan mengabulkan.

Yaa Sami’ Yaa Bashiir, Yaa Fa’ ‘alul limaa yuriid…Jadikan mereka kekasih-kekasihMu, yang kau anugerahi Nur-Mu, Nur KalamMu, Nur Muhammad dan Nur kekasih-kekasihMu lainnya terpantul melalui hati-hati mereka hingga tampak kelembutan KekuasaanMu… Amin Allahumma Amin…

Restu ayah ibumu selalu menyertai kalian.

→ 9 CommentsKategori: Opini
Tagged:

Ayo Kembali ke Masjid

Maret 28, 2008 · 4 Komentar

بسم الله الرحمن الرحيم

Masjid merupakan simbol tegaknya Islam. Untuk melihat seberapa mengakarkah nilai islam di suatu daerah/kampung, cukuplah kiranya kita lihat masjid2 dan musholla2nya. Dari seluruh jumlah penduduk berapa persenkah yang selalu sholat berjamaah di masjid/musholla???

Di zaman Nabi, Mesjid dicontohkan menjadi pusat “peradaban” Islam. Di Mesjid lah pusat penyebaran syiar islam, tempat konsolidasi kaum muslimin, tempat latihan perang, tempat pembinaan akhlaq dan ilmu, dan masih banyak yang lain. Sekarang masjid sudah banyak ditinggalkan. Seandainya sholat subuh berjamaah di setiap masjid jumlah jamaahnya seperti saat sholat jumat, insyaAllah penduduk indonesia akan makmur dan terjamin, akhlaq penduduknya mulia-mulia, Laa khoufun ‘alaiHim wa laa Hum yahzanuun (tidak akan ada ketakutan dan tak akan bersedih); dari kelaparan, dari ancaman keamanan. Karena karunia dari Allah pasti diturunkan atas mereka.

[9:18] Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (SURAT AT TAUBAH (Pengampunan) ayat 18)

kalau mau di traceback, berdasar ayat di atas, untuk menjadikan saudara-saudara kita mencintai (berjamaah dan memakmurkan) masjid terlebih dahulu harus: iman kepada Allah dan hari akhir.

1. Iman kepada Allah, berarti Tauhidnya harus benar. Ia tahu siapa Allah Tuhan Yang Esa, bagaimana sifat2Nya, bagaimana berinteraksi dengan Allah dalam kehidupan sehari-hari, serta tunduk akan ketetapan2Nya.

2. Iman kepada Hari Akhir, merupakan ekses keimanan kepada Allah. Yang iman kepada Allah pasti iman kepada janji2Nya, yaitu hari pembalasan; hari dimana semua amal perbuatan di dunia akan dihisab/dihitung untuk dibalas sesuai amalannya itu. Orang yg iman kepada hari akhir akan selalu ingat kematian yang akan menjemput tanpa permisi, sehingga senantiansa mempersiapkan diri dengan banyak melakukan ketaqwaan kepada Allah.
3. menegakkan Sholat, merupakan ciri2 orang yg selalu menjaga sholatnya, baik di kala sibuk lebih2 di kala senggang. Orang yg menegakkan sholat, semestinya tahu akan pentingnya sholat. dalam taraf tertentu sholat menjadi kebutuhan, karena saat sholatnya seorang hamba berada dalam kadaan paling dekat dengan Allah penciptanya. Sebagai sarana berkomunikasi utama dengan ALLAH. Orang seperti ini khusyu’ dalam sholatnya. Walaupun tantangannya lebih banyak untuk menjadikan sholat kita menjadi sholat yg khusyu’; yaitu bagaimana caranya menggabungkan antara RASA, AKAL dan HATI agar selalu fokus kepadaNya.

4. Menunaikan Zakat; Zakat merupkan sarana pembersihan harta kita dari “kotoran harta” yang merupakan hak para MUSTAHIQ. Orang yg menunaikan zakat dengan ikhlas tentu meyakini bahwa harta hanyalah titipan dan sarana, bukan tujuan.

5. Tidak takut kecuali kepada Allah. Tidak takut di sini adalah dalam segala hal terhadap apapun selain Allah. Dasarnya adalah Iman kepada Allah serta pengetahuan tentang Allah. Selalu merasa dalam pengawasanNya, dan mempunyai keyakinan terhadap kekuasan Allah dalam segala hal. Orang yang takut hanya kepada Allah, Allah menjadikan makhluk lain takut kepadanya.

Di ujung ayat, uniknya, ke lima kriteria itu masih diungkapkan oleh Allah bahwa MUDAH-MUDAHAN mereka termasuk orang2 yang mendapat petunjuk. Hal ini menegaskan akan kekuasan Allah untuk menentukan siapapun dari hambanya yang akan akan diberi hidayah.

Ya Allah jadikan kami dan keluarga kami termasuk orang2 yg Kau karunia hidayah itu.. Amin…

Wallahu a’lam bishshowab.

→ 4 CommentsKategori: Evaluasi Diri · Opini

Iman, Bukan berarti sebuah “Angka Mati”

Maret 26, 2008 · 3 Komentar

mari kita simak 2 kasus berikut :

1.—————


[2:260] Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah {165} semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 260)

2.—————

y
[19:7] Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.
 

[19:8] Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”.
 

[19:9] Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”.
 
[19:10] Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”. Tuhan berfirman: “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat”.
 

—————
Iman sarangnya adalah di dada, lebih tepatnya dalam hati.

hati, sifatnya berbolak balik. Konklusinya: iman akan naik-turun.

kalau melihat 2 kasus NABI dalam al-quran seperti di atas, bukanlah sebuah kesalahan kalau dalam mengimani sesuatu masih ada “pertanyaan”; dalam rangka peningkatan keimanan itu sendiri. Dalam praktik, hal ini banyak saya alami ketika belajar tawakkal. Alhamdulillah dengan justifikasi 2 kasus di atas semakin banyak pencerahan-pencerahan yang saya dapatkan. (bersambung… dah jam pulang kantor :D )

→ 3 CommentsKategori: Opini